Bahkan, jika aku tak mampu berucap, apa hatimu mampu membaca gelagatku?

Kamis, 02 Mei 2013

Hari Pendidikan Nasional

06.59 Posted by Unknown No comments

Hallo, guys! Hari ini tanggal 2 Mei!! Hari Pendidikan Nasional! Emm, banyak yang pengen saya bahas disini.... Tapi, apa yaa? Saking banyaknya jadi bingung mau mengungkapkan apa hehe

Okay deh, tadi pagi saya melaksanakan upacara peringatan "Hari Pendidikan Nasional" bersama semua warga di sekolah saya. Saat bapak pembina membacakan amanat dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ada beberapa hal yang saya garis bawahi.

Pertama, saya mendengar, "Pendidikan sebagai Vaksinasi". Oke, ini cukup menarik untuk saya. Pendidikan sebagai vaksinasi. Ulangi, Pendidikan sebagai vaksinasi. Sebetulnya, apa sih Pendidikan itu?
Kalau menurut saya, pendidikan itu adalah metode atau pembelajaran dalam membentuk suatu kepribadian. Setiap kepribadian seseorang bergantung pada bagaimana mereka 'dididik' baik itu dididik oleh orang tuanya, maupun oleh orang lain, termasuk para guru. Dalam hal ini, saya cukup bersemangat untuk berkomentar. Pendidikan sebagai vaksinasi itu saya artikan sendiri bahwa setiap orang wajib diberi vitamin agar membentuk seseorang yang sehat dalam lahir maupun batinnya. Maka, pendidikanlah yang berperan penting dalam hal ini. Jadi, maksudnya Vitamin yang mampu membentuk jiwa-jiwa yang sehat lahir batin itu adalah pendidikan. Semua hal berawal dari pendidikan, dari pembelajaran. Nah, dalam hal ini, bagaimana caranya agar guru sebagai tenaga pendidik bisa melahirkan jiwa-jiwa muda yang kedepannya bisa menghapuskan Korupsi, dan hal-hal buruk lainnya yang kini marak terjadi di negeri kita tercinta ini.
Saya berfikir sejenak, bagaimana bisa menciptakan jiwa-jiwa yang sehat lahir-batinnya jika pada kenyataannya kadang tenaga pendidik acuh tak acuh terhadap orang-orang yang didiknya? Seperti halnya pada saat ulangan lalu kemudian siswa mencontek tapi dibiarkan saja oleh guru tersebut. Siapa yang membuat siswa kecanduan mencontek? Jika saja pengawas mau lebih tegas, mungkin orang - orang yang kini ber-korupsi ria tidak akan ada di Indonesia. Kenapa saya berkata seperti itu? Karena ketika seseorang mencontek, lalu saat dia melanjutkan sekolahnya, dia tidak bisa apa-apa, bukan? Akhirnya dia menyogok agar bisa masuk ke universitas yang dia inginkan. Oke, ini bukan sepenuhnya salah guru. Orang tua juga bersalah jika sampai ikut-ikutan menyogok agar anaknya bisa sukses. Seharusnya, orang tua itu membiarkan anaknya bekerja keras, bukan malah memberinya uang dan selesailah sudah semuanya. Tidak semua masalah bisa selesai dengan uang, benar begitu?
Lalu kemudian ketika anak itu lulus dari universitasnya, apa yang dia cari? Pasti akan mencari uang sebanyak-banyaknya karena dalam benaknya sudah tertanam "Dulu gue sekolah dan kerja, masuknya pake duit. Harus ada timbal baliknya nih, seenggaknya gue bisa ngeraih duit gue yang dulu dibayarin buat nyogok"
Tidak semuanya seperti ini, tapi kebanyakan yaa seperti itu -mungkin-. Itu hanya sekedar pendapat saya, ya. Negara ini menghendaki pendapat, kan?

Oke hal yang kedua, "Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kegagalan dalam pelaksanaan Ujian Nasional lalu." Kurang lebih seperti itu lah yaa. Oke, disini saya sebagai salah seorang siswi, salah seorang pelajar di Indonesia dengan hormat ingin menyampaikan pendapat saya mengenai pelaksanaan UN kemarin. Kekacauan kemarin membuat saya ingin menangis, sungguh, miris sekali melihat dan mengetahui kakak kelas saya dengan semua keluh kesahnya. Apa gunanya sih UN jika pada kebanyakan pelaksanaannya banyak kunci jawaban bertebaran dimana-mana. UN hanya membebani siswa, menurut saya. Bagaimana tidak, sekolah 3 tahun dan penentuan kelulusannya hanya 4 hari, lalu pencapaiannya 'Jika tidak memiliki nilai rata-rata sekian, maka tak akan lulus.' Oke, ini yang membuat siswa stress. UN menghabiskan dana 600M dengan hasil pelaksanaannya yang kacau balau, coba uang itu digunakan untuk kepentingan lain, lebih bermanfaat bukan? Itu hanya menurut pandangan saya.

Hal yang ketiga, saya hanya berharap ada penurunan beban untuk kami, para siswa-siswi SMA yang dalam satu minggu harus menguasai kurang lebih 20 mata pelajaran. Bagaimana mau menguasai mata pelajaran jika bahan ajar yang diberikan begitu padat? Membuat penat dan keseriusan belajar menghilang, karena terlalu lelah. Kenapa tidak dicoba agar anak memilih pelajaran yang disukainya saja? Agar siswa dapat fokus dengan jurusannya, dengan pilihannya yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

Oke, sebetulnya masih banyak hal lain yang ingin saya ungkapkan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Namun, intinya, saya hanya ingin ada perubahan dari sistem pendidikan di Indonesia agar tidak semraut seperti saat ini. Peran terpenting disini adalah kembali kepada pemerintah yang mengelola dan menggerakkan negara. Apakah akan bergerak maju atau hanya tetap disini saja dengan status perkembangan yang buruk. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan saya berbicara seperti ini, tapi negara ini menghendaki setiap orang yang akan berpendapat, kan? Semoga di tahun-tahun berikutnya pendidikan di Indonesia semakin maju, karena saya sendiri, orang Indonesia, tidak ingin tetap berada dalam status 'Negara Berkembang'. Terimakasih.

0 komentar:

Posting Komentar