Bahkan, jika aku tak mampu berucap, apa hatimu mampu membaca gelagatku?

Minggu, 19 Mei 2013

Cinta yang Terpendam (Part 5)

02.48 Posted by Unknown No comments


"Karena hati akan lebih memilih tetap mencintai orang yang disayangi walaupun 'dia' seringkali menyakiti"

-------------------------------------------------

Hari ini hari yang melelahkan untukku, dari pagi hingga sekarang aku tak berhenti mengurusi pekerjaan-pekerjaan organisasi. Aku pun merebahkan tubuhku di atas kasur. Lagi-lagi fikiranku tertuju pada sesosok lelaki yang sudah satu tahun ini mengisi hatiku, pemilik hati dan cintaku. Ya, Rian. Akhir-akhir ini dia sedang dekat dengan adik kelas. Hatiku terasa perih ketika tahu hal itu, namun sebelum ku dengar darinya langsung aku tak akan mempercayai berita itu. Terlintas dalam benakku untuk memberi pesan singkat padanya.

To : Rian
Ri......

From : Rian
Ada apa, Gin ? Kangen aku? :&

To : Rian
Ngga usah ke-gran :-P

From : Rian
Jangan bohong deh kamu :-P Asik deh dikangenin kamu<3

*Deg*
Aku tertegun membaca isi pesan terakhirnya. Kita memang saling menyayangi, tapi tak pernah ada simbol seperti itu selama ini. Hati ku melambung tinggi.

To : Rian
Kok simbol nya <3 ? Oh ya, Ri, aku mau tanya..........

From : Rian
Terus simbolnya harus gimana? Iya tanya apa?

To : Rian
Ngga kok, gitu juga gapapa, hehe. Kamu, lagi deket sama Aulia? Itu bener apa ngga?

*Rian P.O.V*

From : Gina
Ngga kok, gitu juga gapapa, hehe. Kamu, lagi deket sama Aulia? Itu bener apa ngga?

Stuck. Apa yang harus ku katakan padanya? Jujurkah? Tapi itu akan melukai hatinya, aku tahu, karena baru saja aku merubah status lajangku menjadi berpacaran. Ya, dengan Aulia. Aku harus membalas apa? Tuhan, beri aku jawaban.

Aku terdiam beberapa saat. Ku biarkan pesan Gina, tak ku balas. Aku bingung harus berbuat apa. Tapi, ini semua ada alasannya. 'Maafin aku, Gina.'

-------------------------------------------------

Aku melangkahkan kaki ku menuju kamar mandi untuk membersihkan badanku. Pagi ini cukup cerah, dan aku berharap akan cerah sampai nanti senja tiba.

Setibanya di sekolah, aku melihat ada Radit dan Mitha di depan kelasnya. Aku pun melewati mereka, ku acuhkan dan ku anggap mereka tak ada. Entahlah, aku sangat merasa kesal kepada Radit dan merasa kasihan pada Mitha. Bagaimanapun, aku dan Mitha sama-sama perempuan. Aku pun akan merasakan hal yang sama bila aku berada di posisi Mitha.

Aku pun melangkahkan kaki menuju kelasku. Ku lihat Rian sedang menelungkupkan wajahnya ke dalam lipatan tangannya. Dahi ku mengernyit, heran. 'Ada apa dengannya?'
Aku memilih untuk diam. Memperhatikannya dalam-dalam. Lagi-lagi aku merasa bibir ku menaik ke atas, membentuk sebuah senyuman. Hanya dengan melihatnya, sudah menjadi suatu kebahagiaan untukku.

Dia kemudian menggeliat, mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Aku masih tetap memperhatikannya. Lalu dia pun melihat ke arahku, tersenyum simpul. Ada yang berbeda dari senyumannya. Ada yang berbeda dari pancaran sinar matanya. Entah apa yang berbeda, aku tak tahu pasti. Hanya saja, ada sebuah penyesalan yang ku lihat di matanya.

*Rian P.O.V*

Pagi ini terasa sangat kelam, pedahal ini adalah hari yang cerah. Aku merasa bersalah pada Gina karena berpacaran dengan Aulia. Sejujurnya, aku hanya sebatas 'suka' saja pada Aulia. Karena sesungguhnya, hatiku masih berlabuh padanya. Pada hati gadis kecil itu.

Aku mengngkat kepalaku. Lalu ku arahkan pandangan mataku ke seluruh penjuru kelas. Dan........ Stuck. Aku menangkap Gina ada di sana. Aku pun tersenyum simpul. Lalu kembali menelungkupkan kepalaku. Bukan! Bukan aku tidak senang ketika tahu dia memperhatikanku. Aku senang, sungguh. Tapi, aku merasa bersalah padanya. Aku tak mampu melihat sorot matanya yang memancarkan ketulusan dalam mencintaiku. Aku tahu hatinya benar-benar menyayangiku. Dan kini aku merasa bersalah karena sudah melukainya. 'Maafkan aku, Gina.'

-------------------------------------------------

Beberapa hari ku lalui dengan kehampaan. Entahlah mengapa. Rian seakan menjauhiku, dan aku tak tahu apa yang menyebabkan hal itu terjadi.
Aku dengar Rian sudah berpacaran dengan Aulia. Tapi aku tak percaya. Aku tak percaya sebelum Rian sendiri yang mengakuinya. Pagi ini aku berniat untuk menghubunginya.

*drrt drrt*

Handphone ku bergetar. Ku lihat disana tertera namanya. Rian. Tumben sekali menelpon ku sepagi ini. Jam ditangan ku masih menujuk pada angka 8.00. Ku angkat teleponnya. Terdengar suara di seberang sana.

Hallo.
Hallo. Ada apa, Ri?
Emm, Gin, aku mau ngajak kamu jalan. Mau gak?
Hah? Kemana?
Ada deh. Surprise.
Kok gitu sih?
Mau gak?
Iya boleh boleh.
Nanti aku jemput jam 3 sore ya. See you, little girl.

*tuut*
Sambungan telepon terputus. Aku merasa senang sekali hari ini. Bagaimana tidak, dia mengajakku pergi. Tak ada yang lebih menyenangkan dari berjalan berdua dengan orang yang dicinta, benarkan?

-------------------------------------------------

Ku lihat Rian di depan rumahku. Aku pun keluar untuk menemuinya setelah aku berpamitan dengan kedua orang tuaku.
"Mama Papa kamu mana, Gin?"
"Ada di dalem. Kenapa?"
"Kamu udah izin?"
"Iya udah."
"Kalau pulangnya malem gak apa-apa?"
"Iya, gak apa-apa."
"Oke. Naik."
"Hmm."

Aku pun duduk di atas jok motornya. Aku tak tahu dia akan membawa ku kemana.
Sepanjang perjalanan tak ada percakapan dari kami berdua. Kami saling membungkam mulut rapat-rapat. Setibanya di tempat tujuan aku pun kaget karena Rian ternyata membawaku ke sebuah danau. Danau yang sangat indah.

"Kamu tau tempat ini darimana, Ri?"
"Apasih yang aku nggak tahu. Masuk, yuk! Kita duduk disana."

Rian menunjuk sebuah kursi kosong di ujung danau. Aku pun mengangguk pelan. Rian pun menggenggam tanganku lalu menarik ku pelan menuju kursi.
Aku pun duduk di sebelahnya. Ku edarkan pandanganku menuju danau. Indah dan tenang. Ah, hari-hari yang membosankan benar-benar terbayar habis oleh hal ini. Rian memang tahu bagaimana membuat 'feel' ku membaik.

"Kamu suka tempat ini?"
"Suka! Suka banget! Makasih ya!"
"Iya, Gina."
"Kamu ada apa bawa aku ke tempat ini?"
"Ada satu hal yang mau aku omongin."

Deg! Jantungku berpacu lebih cepat. Hati ku merasa ada sesuatu hal yang akan terjadi. Entah baik ataupun buruk, aku tak tahu.

"Apa?"
"Tapi sebelumnya kamu jangan marah sama aku, ya? Apalagi sampai membenci aku."
"Iya, ada apa?"
"Aku sama Aulia udah pacaran."

Hatiku mencelos. Ada sedikit bagian darinya yang hilang. Terasa sakit di ulu hati. Terasa luka dan sesak di dalam dada. Entahlah, aku merasa hal ini sulit ku percayai. Lalu apa maksudnya selama ini yang tidak akan meninggalkanku? Separuh hatiku melayang. Entah kemana bagian itu pergi. Ia seakan terhunus pedang yang tajam yang membuat luka itu semakin terasa nyeri. Air mata itu tak mampu lagi di bendung. Aku tak bisa menyembunyikan luka itu. Sungguh, rasanya perih. Amat perih.

"Jangan nangis, Gin! Maafin aku."
"Kenapa kamu malah ngajak aku jalan, sedangkan kamu udah memilih Aulia?"
"Maafin aku, Gin."
"Sudahlah, Ri. Jika bahagiamu ada pada Aulia, aku bisa apa selain ikut bahagia juga? Aku tau merelakan itu sulit. Tapi aku akan berusaha merelakan kamu."
"Jangan pernah ngilangin aku di hati kamu! Kamu itu bahagiaku!"
"Dusta!"
"Please, Gin. Percaya sama aku. Aku tidak benar-benar menyayanginya. Karena sayangku hanya untuk kamu."
"Tidak perlu menghiburku. Cukup mengetahui kamu bahagia saja sudah menjadi kebahagiaan untukku. Terimakasih untuk sore yang indah ini."
"Jangan pernah berhenti buat sayang sama aku ya, Gin!"
"Aku nggak akan pernah berhenti cinta sama kamu."
"Makasih, ya! Aku sayang kamu!"

Aku diam, membisu. Sesungguhnya hatiku terluka mendengar pengakuannya. Namun entah mengapa, aku masih saja menyayangi lelaki itu. Satu tahun bukan waktu yang sebentar untuk menyayangi seseorang, bukan? Aku tahu bahagia itu sederhana. Ya, sesederhana aku melihatnya bahagia -juga-. Walaupun sesungguhnya luka itu terasa perih di ulu hati. Walaupun sesungguhnya aku tak rela, tak pernah rela dia menjadi milik orang lain. Tapi, mau bagaimana lagi? Hati ku sudah memilih. Dan aku memilih tetap menyayanginya.

0 komentar:

Posting Komentar