Bahkan, jika aku tak mampu berucap, apa hatimu mampu membaca gelagatku?

Rabu, 08 Mei 2013

Cinta yang Terpendam (Part 4)

06.14 Posted by Unknown No comments

Hari berlalu dengan sangat cepat. Kejadian itu, kejadian di ruang musik tempo lalu yang selalu membuat ku bahagia. Ya, cukup mengingat kejadian itu, aku bahagia. Aku tau, aku perlu belajar menjadi seseorang yang dewasa seperti Rian. Dan aku, belajar menjadi seseorang yang dewasa darinya. Darinya lah awal mula kekuatan itu datang. Darinya lah aku belajar, bahwa hidup itu tidak akan pernah sia-sia jika aku menjalaninya dengan segala keikhlasan.

------------------------------------------------

Aku membuka salah satu media sosial dari laptopku. Aku men-scroll timeline ke bawah. Kulihat Radit membuat sebuah tweet dan tweet itu ditujukan untukku.

Tolong kembali, aku butuh kamu, Gin! @GinaSonya

Akupun membalas mentionnya

Aku nggak pernah pergi, aku tetap disini. Hanya saja untuk sebuah hubungan pertemanan dan nggak lebih :-) @RaditChndr

Tapi, aku butuh kamu untuk lebih dari teman. @GinaSonya

Untuk sekarang, aku nggak bisa. Aku masih perlu berfikir @RaditChndr

Tiba-tiba handphone ku bergetar. Ada telepon. Dari Radit. Aku pun mengangkatnya.
'Hallo'
'Hallo, Gin, besok aku tunggu kamu di taman komplek, jam 5 sore.'
'Tapi,'
tuutt tuutt
Sial! Dia memang selalu memaksa. Tak pernah memberi ku kesempatan untuk menolak. Huuh, ya sudahlah.

-------------------------------------------------

Keesokan harinya aku berangkat menuju sekolah bersama salah seorang teman sekelasku, Alvin. Alvin adalah seorang teman, eum, mungkin lebih tepatnya sahabatku, juga sahabat Rian dan Radit. Aku sering bercerita dengan Alvin. Dia anaknya asyik, juga dewasa. Bisa menjadi seorang pendengar yang baik, untukku. Kami berdua sangat dekat, sering pergi bersama. Bukan karena saling suka, tapi karena memang aku nyaman sama dia. Alvin sudah menunggu di depan rumah. Aku pun keluar rumah dan kemudian naik ke motornya. Sepanjang jalan aku bercerita dengannya. Terutama kejadian semalam, saat Radit mengajak ku bertemu di taman.

"Vin, kemarin Radit telepon, dia bilang mau ketemu sama aku di taman. Pas aku mau nolak, eh malah dimatiin. Aku temuin gak yaa?"
"Kebiasaan ya, tuh anak emang suka banget kayaknya maksa-maksa."
"Iya, temen kamu tuh."
"Iya, mantan kamu tuh."
"Lalalala ngga denger ngga denger."
"Suka gitu kaan."
"Yaudah cepet sekarang jawabannya aku harus nemuin dia atau nggak?"
"Temuin aja, siapa tau emang ada hal penting yang mau dia bilang. Itu sih saran aku."
"Hal penting paling ngajak balikan lagi. Males tau."
"Jangan ngerasa ke-pd-an deh kamu! Hahaha"
"Alviiiiiiin!"
"Hahaha bercanda kok bercanda."
"Vin, aku kangen Rian."
"Kamu itu udah sekelas masih aja kangen ckck."
"Serius, Vin. Aku tersiksa"
"Aku tau, Gin. Tapi kamu sama Rian itu sama-sama menderita."
"Kenapa?"
"Kalau aku lihat, setiap kali Radit cerita tentang kamu ke Rian, raut mukanya langsung berubah. Tapi hebatnya dia, dia bisa nutupin itu. Tapi, kalo aku sih tau gimana posisi dia. Rumit. Antara harus memilih pemilik hatinya, atau memilih persahabatannya."
"Aku pengen nangis, Vin."
"Jangan nangis, ah! Jelek tau! Rian titip pesen sama aku, kalau aku lagi sama kamu, aku ngga boleh ngebiarin kamu nangis. Jangan nangis, ya!"
"Hmm, iya deh."
"Udah yuk, turun! Keburu bel."
"Iya iya bawel dasar!"

-------------------------------------------------

Aku melihat Radit ada di depan kelasnya. Aku melewatinya, dia melihatku. Lalu menyapa ku,
"Hallo, Gina!"
"Eh, hai. Udah bel, duluan ya."

Aku melewatinya, matanya masih mengikuti kemana aku pergi. Huh, aku merasa bersalah kepadanya, tapi yaa mau dibagaimanakan lagi?

Saat jam istirahat tiba, Rian menghampiriku. Dia duduk disampingku. Degup jantungku tiba-tiba berpacu cepat. Aku berpura-pura tak tahu bahwa dia sudah disebelahku. Tuhan, bantu aku mengontrol diriku....

"Ngga usah gugup gitu dong. Hahaha"
"Eh?"
"Hari ini ada janji sama Radit, ya?"
"Kok tau?"
"Radit cerita."
"Aku males ketemu."
"Ayolaaah, kamu nggak kasian sama dia?"
"Kamu nggak kasian sama aku?"
"Nggak."
"Oh."
"Ayolaaah Gin. Buat aku. Please."
"Kok maksa sih?"
"Biarin dong."
"Yaudah bodo amat ngga akan aku temuin."
"Eh? Temuin dong. Please, buat aku."
"Hmm, iya deh."
"Janji yaa."
"Iya iya."
"Oke, makasih ya. Aku keluar dulu."

Rian. Kenapa aku ngga pernah bisa nolak maunya dia? Rrrrrrr. Oke sore ini akan aku sempatkan untuk bertemu dengan Radit.

------------------------------------------------

Sore ini hujan turun dengan lebatnya, hanya saja sekarang sudah mulai mereda. Aku menatap rintikan hujan itu di luar. Ku hirup aroma tanah yang menyengat di hidungku. Ah, aku senang dengan hujan. Dia bisa membuatku merasa nyaman, dia membuat ku merasa aku tak pernah sendirian walaupun pada kenyataannya aku memang sendirian. Jarum jam berdetak seirama dengan denyut nadiku. Kulihat, pukul 18.00. Aku seperti terlupakan akan sesuatu hal. Namun sudah ku coba mengingat, aku tak ingat apapun. Tiba-tiba handphone ku bergetar.

*drrrt drrt*

From : Rian
Kamu udah janji sama aku buat dateng tapi kamu nggak dateng. Dia masih di taman. Tolong temui dia kalo kamu ngga mau aku kecewa sama kamu.

'Hah? Siapa?' fikirku. Aku mencoba mencerna tulisannya. Oh, ya! Aku melupakan Radit. Tuhan, apa yang ku lakukan? Ckck.
Aku bergegas menuju garasi, ku nyalakan mesin motor lalu aku pun pergi menuju taman.

-------------------------------------------------

Radit P.O.V

Kemana Gina? Apa dia lupa aku menunggunya disini? Ku lihat jam yang melingkar di tanganku. Pukul 17.15, 'Baru 15 menit' fikirku. Mungkin sebentar lagi Gina datang.

Jam di tanganku berputar dengan cepat. Awan yang memang sudah kelam sedari tadi kini mulai mengucurkan isinya. Hujan. Sudah pukul 17.30, Gina tak kunjung datang. Oke, aku akan menunggunya sampai dia datang. Hujan turun dengan derasnya. 'Aku akan tetap menunggumu, Gina.' batinku.
30 menit berlalu dengan cepat. Pukul 18.00 Gina belum juga terlihat batang hidung nya. Kemana dia?
Baju ku sudah basah sedari tadi. Entah sudah seperti wajahku sekarang, mayat hidupkah? Mungkin. Kaki ku mulai lemas, walaupun aku duduk, aku merasa kepala ku berat. Ku lihat dari kejauhan ada seseorang menghampiriku. 'Oh, Gina. Akhirnya dia datang juga.'

"Maaf ya, aku lupa."
"Kamu memang sudah lupa semua yang berkaitan dengan ku, ya?"
"Maafin aku."
Dia menundukan wajahnya. Merasa bersalah, mungkin.
"Iya, nggak apa-apa."
"Ada apa?"
"Aku kangen kamu."
"Setiap hari ketemu juga."
"Iya, tapi sekarang semuanya udah beda."
"Maafin aku."
"Aku sayang sama kamu, Gin." suara ku mulai melemah.
"Aku juga, tapi itu dulu."
"Nggak akan ada kesempatan buat aku?"
"Kamu masih punya Mitha, Dit. Jangan hancurin perasaan dia karena kamu ngejar aku. Aku juga perempuan, aku ngerti gimana posisi dia. Sakit, Dit."
"Tapi, aku lebih sayang kamu."
"Kamu sayang sama Mitha?"
"Emm, iya."
"Tuhkan."
"Tapi aku butuh kalian berdua."
"Kamu ngga akan bisa dapet dua-dua nya. Kamu pilih salah satu atau kamu nggak akan dapet siapapun."
"Sulit."
"Kamu harus ngerti posisi kita berdua."
"Boleh aku peluk kamu?"
"Hmm."
Aku pun memeluknya. Kehangatan itu menjalar keseluruh tubuhku. Aku sadar, aku telah kehilangan gadis kecil ini. Kehangatan itu seakan hilang ketika dia tiba-tiba melepaskan pelukanku.
"Mulai sekarang, tolong lepasin aku. Kamu pasti akan bahagia, walaupun tanpa aku. Udah malem, pulang yuk!"
"Tapi, Gin...."
"Dit, aku tau kamu sayang sama aku. Dan aku tau gimana posisi kamu. Aku juga ngerasain. Aku tau, sulit. Tapi, ini jalan yang udah aku pilih, dan tolong, hargai keputusan aku."
"Aku ngga bisa, Gin. Kamu juga harus ngertiin aku."
"Aku harus ngertiin kamu gimana lagi, Dit? Lagipula kita bisa jadi sahabat kan? Kamu harus fikirin Mitha, Dit. Jaga perasaannya, jangan bikin dia semakin sakit. Di cerita ini bukan cuma ada kita berdua saja, ada Mitha, dan ada Ri..."
"Ada siapa lagi?"
"Ehm, kamu maksudku."
"Aku emang salah, Gin. Aku nggak bisa milih antara kamu dn Mitha. Gini ya, rasanya jatuh di dua hati."
"Sudahlah, cerita kita itu cerita usang di masa lalu. Sekarang, berbahagialah, berbahagialah dengan Mitha, orang yang benar-benar menyayangi kamu. Kalau kamu belum bisa memantapkan hatimu, belajarlah untuk fokus pada Mitha, calon masa depanmu. Ehm, ralat, masa depanmu yang sebenarnya. Selamat malam."

Aku melihat kepergiannya. Dia menyalakan mesin motornya, lalu menoleh kearahku dan..... Tersenyum manis, sangat sangat manis. Aku menatap punggungnya yang menghilang dibalik keramaian jalan. Aku benar-benar telah kehilangannya. Kehilangan gadis kecil itu. Aku memang masih memiliki Mitha, tapi semuanya berbeda ketika aku bersama Gina. Yah, tapi Gina mungkin benar. Mitha, lebih membutuhkanku. Bagaimanapun aku harus belajar menerima kepergiannya, kepergian Gina, orang yang aku butuhkan.

0 komentar:

Posting Komentar