Bahkan, jika aku tak mampu berucap, apa hatimu mampu membaca gelagatku?

Senin, 25 Maret 2013

Semuanya Semu. Termasuk Kamu.

18.02 Posted by Unknown No comments

Hai, kamu.
Seseorang yang pernah hadir -dulu-.
Aku merindukan kamu.
Lagi-lagi merindukan kamu.
Tak lelah kah kamu membayang-bayangi aku?
Tak lelah kah kamu membuat aku kembali dan lagi-lagi teringatkan kamu?
Tak lelah kah kamu membuat aku semakin berharap pada harapan semu yang kamu buat?
Tak lelah kah kamu menyakiti aku?

Aku merindukan kamu,
Merindukan kita,
Yang dulu.
Masih selalu merindukan semua tentang kita.
Tahukah kamu bagaimana sulitnya aku menahan perasaan ini ketika aku berpapasan denganmu?
Tahukah kamu bagaimana terpuruknya aku ketika kita bertemu namun seakan tak pernah ada satu rasa yang -dulu- pernah mempersatukan kita?
Tahukah kamu, bagaimana aku menggenggam luka hati ini?
Cerita kita memang cerita zaman lalu yang semu,
Tentang harapan-harapan yang terbang tinggi bersama perasaanku, tanpa perasaanmu.
Cerita kita memang cerita klise,
Tentang sesuatu yang memang terjadi pada setiap insan.

Hai, kamu.
Aku -masih- menggenggam harapan semu.
Dan tak pernah ada sesuatu tentang luka mu.
Ini hanya tentang lukaku. Lukaku karena kamu.
Tak apa jika kamu tak perduli,
Asalkan kamu tahu, luka ini karena mu! Karena kamu! Sekali lagi, Karena kamu!

Aku tahu, kita masih sama-sama menyimpan perasaan itu.
Masih sama-sama mencintai, satu sama lain.
Masih sama-sama selalu memperhatikan, satu sama lain.
Satu hal yang kubenci dari kita,
Berbicara kaku seperti kita tak pernah saling berkenalan,
Seperti kita baru pertama kali bertemu.
Aku benci, sungguh.
Namun, apa dayaku?

Aku bertanya,
Dimanakah kita yang dulu?
Dimanakah kita yang selalu bersama?
Aku mencarinya. Selalu mencarinya.
Mencari kita. Kita yang dulu.
Yang tak pernah ada ragu jika bertemu.
Yang tak pernah kaku ketika saling menatap.

Ada yang hilang dari diriku.
Dia ikut hilang bersama dengan hilangnya dirimu.
Kini, yang tersisa hanya bayangmu,
Bayangan kamu yang semu.
Dan goresan luka yang tak pernah sembuh.
Aku tahu, kesalahanku adalah tak pernah mampu mengeringkan luka itu sendiri.
Aku tak pernah mampu melakukannya sendiri.
Kamu, kapan akan kembali?
Menjahit luka hati yang semakin hari semakin memburuk adanya.

Ah, sudahlah.
Kini aku tahu, memang selama ini hanya bayangmu yang menghampiri dan bukan kamu -yang nyata- yang menemani.
Hingga akhirnya aku menyadari, harapan itu semu. Seperti dirimu.






Oleh : Siti Nur Hawa, Ketika bayang-bayang itu pergi.

0 komentar:

Posting Komentar