"Aku mencintai kamu, Prissy"
"Ya, lalu?"
"Kamu, mau jadi pacarku?"
Gadis itu menoleh, lalu tersenyum manis. Dia pun mengangguk mantap.
Raynald P.O.V
Ah, lagi-lagi kejadian itu terputar cepat di otakku. Hari itu tak pernah bisa aku lupakan. Senyumnya, wajahnya, lalu anggukan mantapnya.
Dia -mungkin- anugerah Tuhan yang sengaja diberikan untukku.
Gadis itu, aku mencintai gadis itu.
Namun, apa yang aku lakukan? Berkali-kali melukai hatinya hingga mungkin kini ia tak mau lagi memaafkan kesalahanku.
Bodoh sekali aku ini! Menyianyiakan orang yang tulus mencintaiku, hingga tak sadar aku telah membuat pahatan yang melukai hatinya.
Pricilla Amchwesten, gadis tinggi, berkulit putih dengan hidung yang mancung. Gadis yang....... Sempurna.
"Raynald, kamu kenapa? Jika kamu berkenan, berbagilah denganku. Bukankah kita memang seharusnya saling terbuka?"
"Kamu ngga perlu ikut campur urusan aku Pris! Kamu itu ngga akan pernah bisa ngerti! Mending sekarang kamu tinggalin aku sendiri!"
Gadis itu melangkah pergi, menjauh, dengan perasaan yang tak bisa digambarkan. Bagaimana mungkin ia yang sama sekali tak pernah mendapatkan bentakan, kini dibentak oleh kekasihnya sendiri?
"Prissy, maafkan aku. Kemarin aku tidak sengaja membentakmu. Kumohon, maafkan aku, ya?"
Ah senyumnya! Lagi-lagi senyum itu yang menjawab semuanya. Ia, memaafkanku.
"Happy Anniversary sayang! Satu tahun ini menjadi satu tahun yang paling berharga dalam hidupku. Semoga kita bisa bertemu di tahun-tahun berikutnya.
With Love,
Pricilla Amchwesten"
Surat itu masih tersimpan rapi dalam kotak kecil di atas meja belajarnya. Ia menitikkan air mata ketika membacanya. Ah, andai waktu bisa terulang, ia tak akan menyakiti gadis itu. Ia tak akan membiarkan gadis itu pergi dari hidupnya. Ia....... Tak akan menyianyiakannya.
*PRANG!!!*
"Raynald...." gadis itu tersentak, nafasnya tercekat, emosinya tertahankan, lalu bulir-bulir air mata itu turun perlahan.
Raynald pun menoleh. Ia kaget ketika mendapati kekasihnya berada di belakangnya dengan keadaan yang buruk. Matanya memerah, rambutnya acak-acakan. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, untuk mengurangi tngisannya. Namun kenyataannya isakannya semakin mengeras.
-------------------------------------------------
Lelaki itu kini tengah duduk di taman kota, sendirian. Menunggu seorang gadis yang telah ia sakiti. Ia menghela nafas panjang. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Belum datang, fikirnya.
"Kamu sudah lama Ray?"
Laki - laki itu menoleh lalu kemudian berdiri.
"Prissy, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menduakan kamu. Tolong maafkan aku."
Gadis itu -Prissy- duduk di kursi.
"Ray, terimakasih untuk waktumu bersamaku selama ini. Aku tahu aku hanya seorang wanita biasa yang terkadang tak mampu memenuhi apa inginmu. Oh ya, aku mau hubungan kita cukup sampai disini saja. Terimakasih untuk semuanya."
Gads itu menggigit bibir bawahnya. Mencoba menahan tangisan itu agar tak keluar.
"Tapi Priss, aku bisa jelasin semuanya."
"Ngga perlu kamu jelasin, aku udah ngerti kok. Aku pulang ya, bye."
Gadis itu melangkah pergi, setelah beberapa langkah ia berhenti dan menoleh kepadaku, tersenyum. Bukan senyum yang penuh keceriaan, namun mungkin penuh luka.
Pricilla P.O.V
Aku melangkahkan kaki ku, beranjak pergi dari tempat itu.
Sesungguhnya aku masih mencintai laki-laki itu. Aku tak pernah bisa melepaskannya.
"Prissy, udah selesai packing? Ayo berangkat."
"Yes, Dad. Sebentar lagi aku turun."
Ah, aku pasti akan merindukan tempat ini. Sejujurnya aku ingin berlama-lama disini. Namun ayahku harus mengurusi kantornya yang berada di Swiss.
Sebelum take off, aku sempat mengirimkan pesan kepada Raynald. Pesan perpisahan tentunya.
"Ray, terimakasih untuk satu tahun yang indah ini. Terimakasih telah memberikan aku pelajaran berharga tentang cinta yang sesungguhnya. Hari ini aku pindah ke Swiss. Aku harap kita bisa bertemu kembali, nanti yang entah kapan. Jaga dirimu baik-baik. Aku sayang kamu, selalu."
-------------------------------------------------
7 tahun telah berlalu. Tak terasa dua insan ini telah tumbuh menjadi orang dewasa dan cerdas.
Yang satu sudah dikenal menjadi seorang pemain piano yang hebat. Dan yang satunya lagi sudah menjadi penyanyi terkenal.
"Prissy, ada undangan untukmu bermain piano di sebuah acara pentas ternama. Nanti kamu harus berduet dengan seorang penyanyi."
"Ya, atur saja olehmu."
Beberapa hari kemudian.......
"Prissy, nanti kamu naik ke panggung duluan lalu mainkan nadanya. Nanti penyanyinya akan datang ketika memasuki lagu bait pertama."
Prissy mengangguk saja.
Alunan nada dari piano itu mengalun indah, lalu masuklah seorang penyanyi laki-laki dan melantunkan suara indahnya -juga-. Benar-benar pentas yang memukau. Prissy maupun laki-laki itu tidak sadar. Mereka terlalu menikmati tugasnya masing-masing -mungkin-. Lalu ketika mereka selesai memberikan hormat kepada para penonton dan berjalan menuju backstage, mereka baru menyadari bahwa mereka telah berduet dengan orang yang selama ini mereka rindukan.
"Permainan pianomu bagus sekali, emm.."
"Prissy"
Gadis itu menoleh lalu kemudian terkejut ketika mendapati Raynald -orang yang masih ia cintai- berada dihadapannya. Raynald pun begitu. Ia sama terkejutnya dengan Prissy. Keadaan seketika menjadi kaku. Mereka terlalu canggung untuk bercerita lebih jauh. Mungkin mereka terlalu saling merindukan.
-------------------------------------------------
"Ternyata kamu lebih cantik dari apa yang aku fikirkan, Prissy."
"Jadi, selama ini kamu masih memikirkan ku?"
"Ya, mungkin aku lelaki yang paling bodoh di dunia ini karena telah menyianyiakan orang yang sangat tulus menyayangiku."
"Sudahlah, jangan dibahas. Itu kan masalalu."
Raynald P.O.V
*DEG*
Hatiku tersentak. Mungkin memang sudah tak ada lagi kesempatan untukku bersamanya. Ya, aku dan dia hanya sebatas masalalu yang seharusnya dibiarkan saja.
"Aku merindukan tempat ini, Ray."
Aku menoleh kearahnya, lalu tersenyum.
"Ya, aku juga merindukan tempat ini. Sudah bertahun-tahun aku tak pernah kesini. Semenjak.... Hubungan kita berakhir."
"Kamu tahu? Di sana aku selalu teringat tempat ini, selalu terfikirkan tempat ini, juga kamu."
Aku menatapnya, dia tersenyum manis. Bahkan sangat manis.
"Oh ya, Prissy, siapa pacarmu yang sekarang? Aku ingin tahu."
"Aku tak punya pacar." dia terkekeh pelan.
"Serius? Masa cewe secantik kamu ngga punya pacar sih?"
"Iya aku serius. Semenjak 7 tahun yang lalu, aku tak pernah berpacaran lagi."
"Prissy, bolehkah aku jujur?"
Ia mengangguk.
"Sejujurnya, semenjak kepergianmu ke Swiss, aku selalu teringat padamu, mungkin rasaku untukmu sudah terlalu besar. Aku mencintai kamu, aku menyayangi kamu. Aku ngga mau kehilangan kamu lagi."
"Oh ya?"
"Iya, Prissy. Aku minta maaf atas kejadian dulu. Aku tak bermaksud menduakan kamu. Darimu aku belajar, bagaimana sakitnya kehilangan orang yang aku cinta."
"Tak apa, Ray. Setiap orang kan pernah membuat kesalahan. Termasuk..... Orang yang kita cintai. Sejujurnya aku pun sama denganmu. Masih dan akan selalu menyayangi kamu."
"Prissy, kamu mau kan mengulangi semuanya dari awal? Would you be mine?"
"Yes, I would."
Aku pun memeluknya. Erat sekali. Aku tak menyangka gadis ini masih menyayangiku setelah semua perbuatanku yang melukai hatinya. Aku berjanji tak akan menyianyiakan dia lagi. Aku tak mau kehilangan, untuk yang kedua kalinya.
The end.
0 komentar:
Posting Komentar