Jadi sebenernya ngga ngerti sama diri sendiri. Rasanya, memang sudah biasa saja, bahkan sudah terlalu hambar untuk mengatakan aku masih mencinta. Memang mungkin, masih ada secuil jiwa yang selalu merindukanmu; terkadang.
Sejujurnya mungkin hanya aku yang merindumu —masih. Mungkin memang hanya aku, yang ditempatkan pada sejatinya; hati yang selalu mencinta. Namun tenanglah, tak perlu engkau risau. Karena nyatanya, kamu sudah tak lagi perduli, bukan?
Ngga kok, aku ngga nyalahin kamu, karena mungkin sebelumnya aku harus berkaca pada diriku sendiri. Ya, namanya juga manusia biasa. Aku cuma mampu mencinta alakadarnya; yang amat jauh dari kata sempurna.
Jika saja kamu tahu, ada segores luka yang kamu tinggalkan. Tak apa, kau pun sudah tau, bukan? Bahwa sejak awal, jika aku memang sudah menyayangi, ya berjalan lah seperti itu, hingga aku menemukan titik ketidaksanggupanku lagi. Tapi nyatanya begini, Tuhan bahkan tak mengizinkan kamu untuk selalu disini. Ya it's okay. Kamu hanya seorang yang datang sebagai pelajaran, bukan? So, thankyou. For everything, dude.
By the way, kangen duduk sebelah lo!
0 komentar:
Posting Komentar