Bahkan, jika aku tak mampu berucap, apa hatimu mampu membaca gelagatku?

Selasa, 08 Juli 2014

Wahai.

10.16 Posted by Unknown No comments

Untuk kamu yang selalu menginspirasi, dan kini tengah pergi, cinta selalu tahu kemana kamu harus pulang.

***

Kamu pergi jauh tak tahu entah kemana, relung hati kini terasa sepi, canda gurau kita kini hanya sebatas angan. Oh sayang, ku tau kini kamu bukanlah milik ku. Kamu; tengah merantau di hati yang lain. Namun aku percaya, cinta mu murni untuk ku, karena cinta tau kemana dia harus pulang.

Hai kamu, jangan kan memeluk, menatap mu saja kini aku tak sanggup. Lagi-lagi; jangan kan bercanda, mengucap sepatah kata pun aku tak mampu, karena hatiku masih tetap saja bergejolak saat aku melihatmu, hanya mampu melihatmu. Hanya itu.

Iya, hanya itu yang aku mampu, tak bisa lebih. Tak kuat barangkali, atau aku harus pura pura kuat di depan mu? Tak mungkin, itu semua mustahil, karena semuanya sudah terlanjur. Kamu; lain kali jika pergi, jangan seperti ini.

***

Karena aku lemah, dan kamu tahu itu. Selalu tahu. Kamu; kelemahanku. Apa? Apa yang harus aku lakukan? Berlari memelukmu hingga yang akan kudapati adalah tepisan tanganmu? Sesakit itu?

Mungkin, memang sesakit itu. Tapi entahlah, aku suka rasa sakit itu. Entah, kenapa. Bodoh? Iya memang aku bodoh. Mungkin aku terlalu tolol. Karena di saat kamu menginjak ku, dan aku terus bertahan; berdiri dihadapan mu. Seakan aku meminta belas kasihan kepadamu? Bukan. Aku hanya membuktikan betapa keras nya rasa ini untuk mu. Hanya untuk kamu.

Because this love's too strong. Hey! Cant you see? Harus dengan cara apalagi aku memberi bukti hanya agar kamu mengerti? Mengerti karena segalanya tentang mu itu ‘betapa’ juga ‘terlalu’. Harus ku jelaskan lagi sebelah mana? Karena nyatanya kamu tak pernah mau mengerti; aku, hingga perasaanku.

***

Buta cinta itu memang nyata. Yang jelas— sejelas-jelasnya- aku yang tersiksa, sedangkan kamu? Menikmati permainan ini dan yaa.. Gotcha!!!! Kamu hampir memenangkan nya. Aku tahu, kamu tak akan pernah bisa menyadari semuanya. Dan kejelasannya; satu yang pasti, hati ini tidak akan pernah bisa lepas dari kamu— hingga saat ini.

Haa. Iya, hati ini milikmu. Selalu begitu; yang entah sampai kapan terus begitu. Aku masih selalu rela menanti disini, melihat tawamu, melihat senyummu, melihat genggam tanganmu; bersamanya, yang selalu kau sebut kebahagiaan. Aku turut berbahagia, wahai kamu. Ah, terlalu naif, bahkan munafik, aku..... aku terluka. Tak kah kau sadari itu?

Mungkin kau sudah menghilangkan segalanya tentang aku dalam benak mu. Aku yang pernah ada di pikiran mu, aku yang pernah membuat mu tertawa, aku yang pernah membuat mu tersenyum indah, dan hampir membuatku jatuh di pangkuanmu. Hey! Sebegitu mudah nya kah kau melupakan aku? Padahal nyatanya; aku disini merana dan apakah kau tahu disini aku 'gila'? Cinta mu terlalu kuat bagiku.

Ralat, cinta ku terlalu kuat untukmu.

Ah, berbicara tentang kamu memang tak akan pernah ada habisnya. Aku suka, karena dengan begini, aku selalu mengingatmu; walau kamu tidak. Menyedihkan, ya? Ah, tak apa. Aku sudah terbiasa. Bahkan, hal menyakitkan yang mana darimu yang tak ku nikmati? Segalanya manis, wahai. Terlalu manis. Walau semakin manis, semakin sakit pula goresan-goresan disini. Iya, goresan yang telah kamu ukir.

***

Seperti yang ku katakan, aku senang bercerita tentangmu. Hingga tak terasa sudah semalam ini. Ralat; sepagi ini. Dan kamu tetap disini, dalam pikiran dan hatiku. Selalu.

Entah kamu bisa membaca sedikit tulisan ini atau bahkan kamu pura pura tak bisa membaca? Menutup mata? Tak apa, yang penting ini untuk mu. Iya, untuk kamu; dariku yang selalu membanggakan mu.

Selamat pagi,

Hawa und Medan.

0 komentar:

Posting Komentar