Bahkan, jika aku tak mampu berucap, apa hatimu mampu membaca gelagatku?

Minggu, 20 Juli 2014

08.23 Posted by Unknown No comments

Untuk kamu yang tengah bersemayam di dalam hatiku.

***

Hai kamu. Jika kamu hendak bertanya apakah aku kuat menghadapi kamu, aku kuat, cukup kuat dengan semua kesabaran ku, karena aku tau sabar itu tidak batas nya. Iya, ngga ada. Tapi, jika aku memutuskan untuk berhenti, apa itu salah? Apa aku akan menyesal? Entahlah, aku pun sudah hampir menyelesaikan segalanya, tapi rasa sabar ini menahan ku; untuk sebentar lagi.

Hai, kamu. Ah, aku terlalu munafik. Maafkan aku, ya? Terlalu munafik dalam mencintaimu, mengatakan aku baik-baik saja, saat aku sadar nyatanya tak begitu. Aku mencintai kamu, dengan segala keikhlasan ku. Entahlah, aku bahkan terlalu sulit melepasmu pedahal aku tahu, semakin aku menggenggam kamu, semakin menjalar pula rasa sakit ini.

Hai, kamu. Kadang aku sering berpikir, apakah kamu ikhlas? Apakah kamu sungguh mencintai aku apa adanya? Pedahal, pertama kali kamu bilang akan mencintai aku apa adanya. Tapi, apa nyatanya? Tarik lagi saja bualanmu itu, tak pantas kamu ucapkan 'lagi'.
Melepasmu? Apa itu cara terbaik yang harus aku lakukan? Eng.... Engga, aku tegaskan sekali lagi, tidak. Aku belum berpikir hingga sejauh itu. Lagipula, hati ini sudah tertutup rapat oleh 'kepalsuan cinta', mungkin? Tapi, lain cerita jika kamu yang melepas ku. Mungkin aku tak akan berpikir dua kali dan, ya, aku akan pergi, dan penyesalan itu, aku tunggu.

Sedikit menantang hatiku, ya? Iya, buat kamu, apasih yang ngga? Apasih yang ngga aku lakuin buat kamu? Aku mau kamu bahagia, tapi, kenapa? Kenapa kamu tidak membiarkan aku mencintaimu dengan caraku? Apakah aku patut mempertanyakan keikhlasanmu bersanding dengan ku saat ini? Karena nyatanya kamu menolakku, menolak aku dengan caramu. Cara yang mematikan, yah! Selamat, telah membuat ku seperti ini! Aku hanya ingin kita bahagia, tapi nyatanya, semakin dewasa kita semakin sulit menemukan cara untuk bahagia dengan sederhana. Apa harus dengan kesakitan yang terlalu agar aku bahagia? Maksudku, agar kamu bahagia? Karena nyatanya, bahagiamu adalah prioritasku.

Hai, kamu. Melihat kamu bahagia pun aku sudah sangat senang, walaupun nyatanya, kamu tak pernah memandang aku disini sedang apa, bertanya aku disini sedang apa dan apa yg sedang aku lakukan, apa itu cara mu agar kamu bahagia? Apa mungkin kamu hanya memprioritaskan kebahagiaan kamu saja? Tolonglah, sedikit saja lihat aku disini, apa tak cukup aku meminta tolong? Rasanya terlalu menyakitkan ya, bahkan mungkin seharusnya aku tidak perlu meminta untuk kamu melirik aku sedikit saja. Sesakit ini kah yang perlu aku rasakan? Ah, kamu, melirik aku sedikit saja pun rasa nya sulit, ya? Padahal kita sudah ada ikatan, walau tak terlalu sakral, tapi cukup lah; cukup untuk menunjukan bahwa diantara kita ada status lain. Gotcha! Kamu menang, sayang. Selalu menang. Bahagia untukku sederhana, melihatmu tersenyum karena tingkah ku saja, aku sudah bisa merasa terbang, karena melihat senyum lebar mu itu, aku sangat melayang. Aku, suka. As always.

Hai, kamu. Apa harus aku memohon dan berlutut di depan mu sambil beruraikan air mata dan menangisi kamu di bawah kaki kamu? Tentu saja tidak! Aku ini lelaki, dan mungkin kali ini mau kamu tak pernah melirik aku sekalipun aku sudah tak perduli lagi. Sakit? Ya sangat jelas! Coba bayangkan jika kamu di posisi aku, apa kamu kuat? Apa kamu bisa menghadapi aku jika aku punya sifat macam kamu begini? Aku rasa tak bisa. Iya, tidak bisa. Dan kamu, bisa cari di seluruh dunia apakah ada lelaki seperti aku? Menahan kesakitan demi melihat kamu bahagia... Ahh sayang, aku pasti akan lakukan apapun itu asalkan aku lihat bibir mu itu tersenyum lebar. Indah.

Hai, kamu. Aku berharap, kamu bisa menerima ku dengan apa adanya, apakah ini salah? Seperti yang kamu selalu bilang, mencintaku apa adanya. Akankah harapanku terwujud? Sebagaimana doaku yang seiring hembusan nafas selalu menyebutkan kamu, agar selalu bahagia. Silakan cari yang seperti aku, yang mau mencintaimu seperti aku, aku yakin, hanya aku yang mampu. Ahahahaha, apa aku terlalu berkhayal? Kurasa, tidak. Ah, sudahlah, sebagaimana aku berharap pun kamu mungkin tak akan mengerti, aku cukup saja, cukup untuk bahagiamu, senyum manismu, yang ku harap akan selalu terukir indah, disana.

***

Hai kamu, merasakah bahwa ini semua tentang kamu? Karena jujur, ini semua tentang kamu. Untuk kamu.

ps; Ini aku yang selalu berusaha membahagiakan kamu, bagaimanapun cara nya. Aku menyayangimu.

July, 20th 2014; 10:54 pm.
Hawa und Medan.

0 komentar:

Posting Komentar