Jejak - jejak langkah kakimu masih tertapak di pasir itu,
Ya, pasir pantai di ujung pulau,
Ombak yang menggulung seakan tak mau menghapusnya,
Menghapus jejak kakimu, jejak kakiku, jejak kaki kita.
Senja menggulung, mengukir jingga yang mengulum senyum,
Senyum manis, namun tak semanis senyuman mu,
Senyuman yang dulu masih milik ku.
Aku terdiam,
Kamu terpaku,
Kita membisu,
Menatap deburan ombak ditemani langit yang gelap dihiasi ribuan bintang,
Lagi, mereka membentuk senyuman mu,
Sekali lagi, senyum yang dulu masih milik ku.
Dalam kenang lalu,
dan dalam getar duka,
Hujan menemani tangisan malam ini,
Malam saat aku menyadari kamu tak lagi di sampingku,
Lagi, kini aku sendiri,
Tanpa kamu, ataupun bayanganmu.
Bagaimana bisa aku melihat bayanganmu jika kamu saja tak ada di hadapanku?!
Ah, lagi, air mataku jatuh bersamaan dengan air hujan yang menyapa malam,
Hanya dingin yang menemani hati dan jiwa yang kosong ini,
Aku lelah,
Lelah pada kenyataan bahwa aku bukan milik mu lagi,
Lelah pada kenyataan bahwa aku tak mampu bersamamu lagi,
Lelah pada kenyataan bahwa aku kini sendiri,
Lalu, siapa yang akan ku cari saat ini jika kamu tak ada lagi?
Kepada siapa aku harus datang ketika aku membutuhkan pelukan saat hati ku lelah bertahan?
Kepada kamu-kah aku harus datang? HAHAHA!
Lucu-kah?
Aku tak nyaman dengan keadaan ini,
Keadaan dimana aku harus berpura-pura tak mengenal 'kita',
Beritahu aku, kemana aku harus berjalan?
Karena di persimpangan ini, aku tak menemukan mu sama sekali.
Pulanglah dengan segera,
aku selalu menantimu.
0 komentar:
Posting Komentar