Bahkan, jika aku tak mampu berucap, apa hatimu mampu membaca gelagatku?

Minggu, 22 September 2013

Love In the Rain

02.48 Posted by Unknown No comments

Lelaki itu menatap rintikan kecil di luar sana. ’Ah, hujan’, pikirnya.
Ingatannya melambung pada kejadian kemarin. Ia teringat pada sosok wanita yang semalaman tadi menghantui pikirannya, hingga sekarang, hingga malam ini. Wanita yang membuatnya jatuh cinta dengan hujan. Wanita yang membuatnya mengerti sepercik realita kehidupan. Wanita yang di temuinya di sudut kedai kopi untuk menunggu hujan. Ah, mengapa ia harus merindukannya?

~~~~~
———

Siang ini Jakarta diguyur hujan. Aku memutuskan untuk berteduh sejenak di kedai kopi yang ada di depan kampus ku. Ku buka pelan pintu kaca, lalu ku edarkan pandangan ku mengelilingi kedai kopi ini. Penuh. Lalu kemudian mataku berhenti di sudut ruangan. Ada satu kursi tersisa. Namun, ada seorang wanita duduk di depan kursi kosong itu. Ku lihat wanita itu menyesap pelan secangkir kopi panas yang ada di hadapannya. Matanya tak lepas dari guyuran hujan di luar sana. Bibirnya mengulum senyuman. Manis.
Entah mengapa, ada sesuatu yang menarikku untuk segera menghampirinya.

”Hai. Boleh saya duduk disini?”
wanita itu menoleh kaget, lalu kemudian mengangguk pelan.
”Terimakasih.”

Ku panggil pelayan, lalu ku pesan secangkir Vanilla Latte kesukaanku. Ku pandangi lekat-lekat wajahnya. Memang benar, wanita ini sangat manis. ”Tidak perlu menatapku seperti itu. Aku bukan seorang teroris ataupun artis terkenal.”
”Eh..”, aku tersentak, ”Maaf.”
”Hm”
”Kalau boleh tahu, kamu suka hujan?”
”Ya, aku menyukai hujan. Namun, aku juga membenci beberapa bagian dari hujan.”
Aku menyesap kopi yang telah ku pesan, pandanganku tetap tak beralih darinya.
”Kamu suka hujan?”
Aku tersentak, ”Kau bertanya padaku?”
”Ya.”
”Aku tak suka hujan. Hujan seolah membawa duka untuk orang-orang. Aku benci dengan hujan.”
”Kamu belum merasakan sensasi sebenarnya saat air yang turun dari langit itu membasahi wajahmu. Menurutku, hujan datang untuk melenyapkan rasa lelah yang tergambar dari wajah kita. Kesejukannya akan membawa ketenangan pada hati. Kamu mau coba?”
”Di luar hujan besar, kau gila? Nanti kita sakit, kau mau?”
”Kamu percaya saja padaku. Cepat habiskan kopimu.”
Aku pun menyeruput kopi yang tersisa. Lalu, aku mengikuti gadis itu keluar kedai. Entah mengapa, aku bahkan tak tahu siapa namanya. Namun ia mampu menarikku ke dalam ’dekapan magnetnya’.

Dia berlari menuju taman sebelah kedai. Aku melihatnya tertawa lepas. Dia membalikkan badannya, lalu berteriak, ”Sini cepat!”
Aku pun berlari mengikuti perintahnya. Dia menarik tanganku, lalu menyuruh untuk membentangkan tanganku itu.
”Coba liat ke atas. Jadilah teman hujan, dan rasakan kesejukan yang kamu rasakan.”
”Oke.”
Aku pun menuruti perintahnya. Dan, perlahan hujan membasahi wajahku. Sejuk. Ia benar, aku merasakan kesejukannya.
Aku menutup mata, dan merasakan aliran hujan mulai membasahi pakaian ku.
”Gimana? Aku bener kan?”
”Hmm..”
”Duduk di kursi itu, yuk!”
Aku mengangguk pelan, lalu detik kemudian ia menarik tanganku -lagi-
”Aku mencintai hujan, hujan selalu membawa dan mengangkat seluruh duka, letih dan kelelahan yang selalu aku rasakan. Walupun aku tahu, ada kesesakan kala aku ingat seseorang yang mengenalkan ku pada hujan. Aku percaya, hujan adalah teman yang tak akan pernah mengkhianati. Aku juga tahu, hujan datang tak selalu membawa pelangi, sama seperti hidup yang kadang tak berwarna. Namun, bukankah kita harus tetap percaya bahwa kebahagiaan selalu datang dan selalu Tuhan ciptakan untuk kita? Oh ya, terimakasih sudah mau menemaniku bermain.”
”Sama-sama, terimakasih juga telah memberi tahu ku tentang hal ini.”
”Aku harus pergi. Sekali lagi, terimakasih, ya. Belajarlah mencintai hujan!”
”Kau mau kemana? Hey! Tunggu! Siapa namamu?”
”Aku akan memberitahu mu jika kita bertemu lagi saat hujan. See you!”
”Aku tunggu!” ucapku berteriak. Dia pun mengacungkan jempolnya dan berlari di tengah derasnya hujan.

~~~~~
———

Untuk kamu, yang mengenalkanku pada hujan
Malam ini, Jakarta di guyur hujan -lagi-
Ah, entah mengapa aku merindukan kamu,
Kamu yang semestinya asing dalam hidupku
Namun, sekali lagi, entahlah aku merindukan kamu, dan senyum manismu
Sayangnya, aku tak tahu namamu,
Aku ingin bertemu denganmu, sungguh,
Karena ku rasa, aku jatuh cinta padamu,
pada kamu, yang mengenalkanku pada hujan,
Semoga Tuhan akan mempertemukan kita kembali pada saat hujan

0 komentar:

Posting Komentar