Bahkan, jika aku tak mampu berucap, apa hatimu mampu membaca gelagatku?

Senin, 16 September 2013

A Letter for You

05.30 Posted by Unknown No comments

Good night, there. I've missed you all the time. Everytime I am in the crowd, I always think of you. I don't know why, but that's the fact that I've never been better without you. Huh, there's nothing from you. No missed calls. No voice-mails. No text messages. Nothing.
I've stopped being sad. I've tried stop missing you. But I think it's pretty obvious that I still love you. Hahaha funny isn't it?
Now, I am a human with no ability to moving on. Hfa. I love you:')

Sabtu, 14 September 2013

Demi Bahagiamu

04.45 Posted by Unknown No comments

Demi nyiur yang menari di ujung pasir putih,
dengan kenangan yang menyeruak memecah gelap
Aku berjalan memendar sunyi, sendiri

Bayanganmu seakan menjadi candu,
candu hidup yang semakin hari semakin menggerogoti hati
Lorong ingatanku berjalan menuju hari dimana kita mengucap cinta,
disini, aku memadu kasih, mengucap kata 'ya' dan merasakan peluk hangat tubuhmu, untuk yang pertama kali
Rindu semakin menggerogoti pikirku, saat ku sadari malam ini aku telah sendiri, tanpa mu lagi

Demi indahnya matahari yang terbenam di ufuk barat, sungguh, aku tak ingin kamu pergi
Banyak kata yang belum sempat ku sampaikan,
Banyak kerinduan yang sampai saat ini ku pendam,
Banyak, segala hal tentangmu selalu banyak menutupi akal sehatku
Haruskah? Haruskah kita berpisah secepat ini saat baru saja kita temui satu persimpangan jalan?
Haruskah? Haruskah kamu bertanya kemana kamu harus pergi saat kau lihat dengan jelas aku menunggumu di ujung persimpangan jalan yang lain?
Lalu, mengapa kamu meninggalkanku saat aku masih berdiri menantikan kamu?
Haruskah kita berjalan sendiri, lagi?

Aku merindukan kamu, merindukan setiap petikan senar gitar yang tercipta hanya untuk ku
Aku merindukan kamu, merindukan setiap ucapanmu yang selalu membuatku merasa aman
Aku merindukan kamu, merindukan sederetan angka dan soal matematika yang siap kau ajarkan padaku
Aku merindukan kamu, merindukan kebisuan bibirku saat aku berhadapan denganmu
Aku merindukan kamu,
merindukan setiap detakan jantungku yang berjalan secepat kilat saat aku bersamamu
Aku merindukan kamu, merindukan kegugupan ku saat kamu menatapku
Aku merindukan kamu,
merindukan senyum manismu yang hanya untukku
Aku merindukan kamu, merindukan belaian tanganmu di kepala ku
Ah, aku terlalu merindukan banyak hal darimu
Merindukan 'kita', yang dulu

Haruskah kita mengawali cerita kembali untuk saling menemukan?
Seperti Adam dan Hawa yang bertemu -kembali- saat Sang Kuasa memisahkan
Apakah? Apakah kamu mau berjuang menemukan ku seperti aku yang akan selalu berjuang untukmu?

Secangkir kopi menjadi saksi, saat kebisuan menjelma menutupi bibir yang siap mengucap sepatah kata
Jangan pergi, aku tak mampu sendiri, tanpamu.
Namun lagi, tak ada yang mampu membayar mahal kesunyian yang tercipta malam ini, malam saat aku harus membiarkanmu pergi
Hatiku berontak, akal ku mendadak tak sehat
Aku tak mau! Aku tak mau kamu pergi, sayang.”
Namun nahas yang terjadi,
sekali lagi, bibir ku membisu, sulit tuk berucap
mataku menatap nanar bayangmu yang pergi menjauh
Sakit. Sakit yang ku rasa kala aku harus membiarkan mu meninggalkan ku

Namamu selalu terucap saat aku memanjatkan sepucuk do'a pada Sang Kuasa
Masih do'a yang sama, seperti dahulu saat kita masih bersama
Masih do'a yang sama, mungkinkah Tuhan mempersatukan kita -lagi- ?

Demi bahagia yang Tuhan cipta untukmu, walau aku harus terluka kala aku menyadari hal ini, aku rela
Ku biarkan kamu pergi, agar kamu mengerti, kamu terlalu berarti untuk tak ku bahagiakan
Sekali lagi, ku biarkan kamu pergi, agar kamu memahami, kamu selalu patut ku bahagiakan, walau bahagiamu menyiksa hati dan diri ku

Malam ini, aku hanya berharap
Berharap agar kamu tak pernah lupa dengan hari itu
Berharap agar kamu 'cepat pulang' dan 'tahu jalan pulang'
Berharap........ kamu tak pernah menyesali 'kita'
Untukmu, kebahagiaanku
Aku, selalu disini, untukmu

Senin, 09 September 2013

Kamu; Segeralah Pulang dan Kembali

02.12 Posted by Unknown No comments

Sejatinya, rasa dan hati yang ku punya -saat ini- adalah untukmu, atau bahkan rasa ini akan selamanya bersemayam di hatiku. Who knows? Entah itu akan menjadi hal yang buruk, atau justru sebaliknya, aku tak tahu. Yang jelas, hati ku selalu milikmu. Hingga detik ini, saat kamu membaca serangkaian ungkapan hatiku.

Lumrah nya, berjalan itu kedepan, kan? Iya, ke depan. Lah aku? Masih selalu diam di tempat. Tak ada yang lain yang ku lakukan. Hanya menunggu mu kembali. Kembali merajut cerita usang. Kembali menggenggam tanganku, memberiku kekuatan untuk segala hal. Karena sesungguhnya, aku membutuhkan mu untuk selalu merawat hatiku yang rapuh.

Selalu, lagi-lagi kamu yang selalu membuat ku resah dalam satu waktu. Membuat kebahagiaan dan luka dalam waktu sekaligus. Hebat. Sungguh.
Perasaan ku mungkin telah mengakar kuat di dasar hati tempat ia tumbuh. Salahkah? Please, if it's wrong, tell me now! :')

Hai kamu, sejujurnya, banyak hal yang ingin ku sampaikan padamu. Hanya saja, aku tak tahu harus memulainya darimana. Yang jelas, hati aku masih selalu milikmu. Rinduku masih untukmu. Be right back, ya. Aku tunggu.

Semoga yang pergi; cepat kembali dan tidak lupa untuk kembali. - Dwitasari

Untuk kamu, calon polisi di masa depan.

Minggu, 01 September 2013

Lagi; Tentang Kamu

04.06 Posted by Unknown No comments

Aku baru sadar akan sesuatu hal, lewat sebuah tweet yang isinya kurang lebih kayak gini

       ”pelajaran dari senja: sebab beberapa hal yang indah hanya berlangsung sementara.” — benzbara_

Iya. Sementara. Hanya sekejap yang dirasa. Kadang hal yang indah itu selalu tertutupkan oleh derasnya luka. Luka? Lagi?  Iya. Hidup itu memang seperti itu, kan? Selalu ada bayaran untuk segala hal.

Seperti cinta, ia indah. Tapi nyatanya, keindahan itu hanya bertahan sementara. Tergantung dari bagaimana kamu membuat nya bertahan, sementara, atau lebih lama?
Mungkin bayaran yang pas untuk segala rasa, bahagia dan kasih sayang untukmu adalah luka yang selalu mengorek sebagian kecil dari ingatanku. Iya, aku sudah bahagia denganmu. Aku merasakan bahagia yang luar biasa. Masalah yang datang pada kita, ku biarkan mengalir begitu saja. Bukankah memang pada suatu hubungan itu yang membuatnya kuat adalah bagaimana kita bertahan ketika masalah itu menggerogoti suatu hubungan. Tapi, balik lagi. Aku lupa, lupa hal bahwa kamu bisa pergi kapan saja, lupa akan hal bahwa kamu bisa meninggalkanku kapan saja, lupa bahwasanya kamu bisa saja tak siap dengan segala masalah yang terjadi. Dan pada akhirnya, kamu pergi disaat aku sadar kamu lah yang paling berarti. No one else.

Ingatan tentang mu selalu bergejolak, bergelayut manja pada tiang-tiang pikiranku yang kini tak kokoh lagi. Iya, tak kokoh karena kamu. Bagai rayap yang selalu memakan kayu - kayu yang kuat. Kamu dan bayanganmu yang merapuhkan segalanya. Termasuk tempat perasaan itu muncul, kini telah rapuh keadaannya.
Tidak ada yang salah akan hal yang selama ini terjadi. Hanya saja mungkin kamu yang terlalu berarti untukku, terlalu sulit untuk ku lepaskan. Bagaimana bisa melepaskan disaat perasaan dan hatiku selalu dipenuhi tentang kamu?

Lagi. Ini hal yang sulit. Aku diharuskan berjalan sendiri ketika aku membutuhkan kamu untuk memegangi tanganku. Memberikan energi untuk aku selalu bertahan. Namun, lagi, aku tak mampu berbuat apa-apa ketika kamu berjalan begitu saja di hadapanku seolah aku tak pernah berarti apa-apa untukmu. Ataukah? Ataukah memang aku tak pernah berarti untukmu? Haha. Menyedihkan.

Hal yang paling ku ingat tentang senja adalah kamu. Pemanis segala cerita dalam hidupku yang merangkap sebagai kopi pahit. Ah, sudahlah. Mungkin seterusnya akan begini. Ketika aku merindukan kamu, maka inilah yang akan ku lakukan. Mengingat sedikit tentang kamu, menikmati bayanganmu yang masih saja menggelayut manja di pikiranku, menikmati kenangan yang kita miliki saat senja, dulu. Walaupun akhirnya selalu ada air mata yang tumpah saat aku menyadari, kamu tak lagi disini.

Saat kenangan mengorek hati dan pikiran.

Senin, 26 Agustus 2013

Kalo Kata Orang Sih, ‘Gagal Move On‘

01.19 Posted by Unknown No comments

Lagi, setiap orang yang menghampiri ku acuhkan begitu saja. Bukan, bukan karena aku tak suka pada mereka. Aku suka, tapi hanya untuk sebatas teman, dan tak lebih. Maaf, aku belum mau membuka hati untuk orang lain selain kamu. Masih, dan mungkin akan selalu untukmu. Mungkin. Sejujurnya, aku ingin melepas segalanya. Melepas perasaan untuk kamu, namun kenyataannya aku tak pernah mampu.
If there was a million reasons to leave, I would still look for the one reason to stay.” This.

Aku tahu, tak diinginkan oleh seseorang yang kita sayangi itu hal yang menyakitkan. Tapi, harus bagaimana lagi? Daripada membohongi diri sendiri dan juga orang yang sudah menyayangi kita dengan tulus, lebih baik jujur, kan? Karena kebahagiaan yang berawal dari kebohongan itu adalah hal yang paling menyakitkan. ”Truth hurt only once, but a lie hurt everytime you remember it.” Nah, daripada menyakiti setiap kali mengingat kebohongan, lebih baik menyakiti sekali saat kita jujur, iya kan?

Bagaimana bisa aku membuka hati untuk orang lain, jika hati dan pikiranku masih menyimpan kamu dan segala tentangmu? Kalo kata The Script sih, How can I move on when I'm still in love with you? Huh, ada apa denganmu? Ada apa dengan dirimu? Ada apa denganku hingga aku tak mampu melepas segalanya? Aku selalu mencari. Mencari jawaban atas apa yang ditanyakan oleh diri dan hatiku sendiri. Sayangnya, hingga saat ini aku tak pernah tahu alasan mengapa aku menyayangimu. Kamu, heran? Aku pun.
I love you. And it's not because you make me happy, not because you make me feel special, and not because you're the sweetest person ever. But because I just love you. And I don't need any reasons for that.
Ngah! Kini aku mengerti, untuk mencintai dengan ketulusan itu tak membutuhkan beribu alasan. Iya, dan itu mungkin jawaban untuk segalanya. Cukup jelas, kan? Mungkin.

Maaf. Maaf untuk segala hal. Perasaan ini muncul begitu saja untukmu. Jika kamu tak menginginkannya, maafkan. Jikalau aku boleh memilih untuk siapa saja perasaan ini, aku tak ingin memilih kamu. Sayangnya, hatiku yang memilihmu. Dan itu berlaku hingga saat ini, hingga detik ini.

Terimakasih. Terimakasih untuk segala hal. Terimakasih telah mengajariku banyak hal. Terimakasih telah memberi cerita yang ’indah‘ dalam segala hal. Terimakasih telah menjadi inspirasiku dalam banyak hal. Terimakasih, terimakasih telah mengajariku untuk menjadi sesosok perempuan yang kuat. Terimakasih.

Yours.

Minggu, 11 Agustus 2013

Feel

01.02 Posted by Unknown No comments

Kali ini aku belajar banyak tentang mencintai. Ya, mencintai kamu. Mungkin sebaiknya dari awal aku tidak boleh terlalu melarutkan perasaan ini. Tapi, nasi sudah menjadi bubur, kan? Sama kayak gula yang di larutkan dalam air. Ngga bisa balik ke bentuk gula semula. Sama kayak perasaan aku. Nggak bisa kembali kayak kita ga kenal. Terlalu menyakitkan dan itu ngga mudah. Mungkin seharusnya mencintai dalam diam lebih cocok untukku. Aku tidak pernah menyesal untuk perasaan ini. Bagaimana pun, ini perasaan yang indah walaupun bumbu-bumbunya tak semanis perasaannya. Walaupun perjuangannya penuh luka. Walaupun...... Ah, sudahlah. Aku ngga tau harus gimana lagi sekarang. Mempertahankan ternyata memang ngga pernah semudah mendapatkan. Sama seperti aku yang sulit mempertahankanmu. Berbahagialah, karena bahagiamu segalanya untukku. Iya, untuk aku. Aku ngga pernah nyesel punya rasa ini buat kamu. Justru perasaan ini mengajarkan aku untuk selalu menjadi orang yang hebat, menjadi seseorang yang kuat. Walaupun pada faktanya, mencoba menjadi seseorang yang kuat 'luar-dalam' itu ngga mudah. Iya, kenyataan memang terlalu pahit untuk di dengar. Terlalu sulit untuk dijalani. Tapi, lebih baik menerima kenyataan daripada menerima kebohongan, Right? Hahahaha
Tahu lagu Always Be My Baby ? Itu mungkin cocok ya.... Haha. Miris. Menyakitkan. Haha
Tapi aku bersyukur masih punya orang-orang yang sayang sama aku. Walaupun aku jauh lebih sayang kamu hehe. Be right back, ya!
Kamu bisa, kamu kuat, Haw!

Jumat, 02 Agustus 2013

Kala Cinta Bertahan

16.00 Posted by Unknown No comments

Ada bayangan yang datang perlahan memendar kesunyian. Lagi, sosok lelaki itu kembali lagi, memberi kesesakan di rongga hati. Ah entahlah, bayangan lelaki itu semakin kuat menghantui. Menghantui pikiranku. Sudah ku coba untuk menepis segala bayangan itu. Kamu, iya kamu. Lelaki yang dalam detik pertama sudah mengunci hatiku, membekukan otakku, mengelukan lidahku, terpaku. Seperti orang bodoh? Memang.

Aku percaya cinta pada pandangan pertama. Dan mungkin kini aku sedang mengalaminya. Pertemuan pertamaku dengannya, aku merasa bahagia. Rindu semakin menggebu seiring berjalannya waktu. Aku mencari sosoknya di setiap sudut koridor, hanya untuk melepas rindu. Bodohkah? Bodohkah jika aku merindukan seseorang yang baru ku temui sekali?

Awalnya aku mengira ini hanya obsesi belaka. Hanya cinta yang dipenuhi nafsu, bukan murni perasaan yang sebenarnya. Namun, kini aku percaya, kini aku tahu, aku benar mencintainya dan ini bukan sebuah obsesi belaka. Iya, seperti itu.

Kejadian itu sudah 7 bulan berlalu. Namun, aku masih mengingat indah semua memori yang ku lakukan bersamamu. Walaupun pada kenyataannya, memori itu membawa luka yang selalu melumat hati perlahan. Jika aku tak bangkit dari kejadian dulu, mungkin kini hatiku telah mati, jiwa ku melayang pergi walau raga masih tetap disini, di bumi yang penuh dengan fana, penuh dengan kenyataan yang menyakitkan.

”Bagaimana?”
”Apa aku harus menjawabnya sekarang, Raf?”
”Kalau kamu tidak siap, aku tidak akan memaksa kamu untuk menjawab. Asalkan kamu tau aku mencintaimu pun, aku sudah bahagia, Na.”
”Jangan pernah tinggalin aku.”
”Jadi?”
Aku mengangguk pelan, lalu ku lihat senyum di wajahnya. ”Jangan pernah buat aku ngerasa sendiri, ya. Aku terlalu takut untuk terluka.”
”Iya.”

-----------------------------------------------------------

Malam ini aku disini, di sebuah foodcourt yang berada di sebuah mall ternama. Tepat 3 bulan yang lalu, aku merajut asmara dengan lelaki tinggi itu. Kini aku menunggunya untuk makan malam. Namun, betapa terkejutnya aku ketika ku lihat seseorang yang ku sayangi, berjalan mesra dengan sosok perempuan lain. Bisa kau bayangkan? Ini hari jadianku, dan aku mendapatkan hadiah yang luar biasa. Ya, luar biasa menyakitkan. Air mataku terjatuh perlahan. Aku pun memutuskan untuk menghampirinya

”Selamat malam, Rafli.”
”Nisrina? Kamu ngapain disini?”
”Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Raf! Siapa dia?”
”Dia pacar aku, Na.”
”Jadi selama ini aku kamu anggap apa? Ha? Bajingan! Kita putus!”

Aku berlari keluar. Angin malam berhembus kencang. Dingin, sangat dingin. Air hujan pun menetes perlahan. Lalu lama kelamaan menjadi deras, sederas air mataku saat ini. Aku tak perduli jika aku harus sakit, hatiku lebih sakit dari apapun. Sungguh, luka ini begitu dalam, seolah menusuk rongga dada hingga terasa menyesakkan.

-----------------------------------------------------------

Sampai detik ini, kejadian itu masih terus terputar di sudut memoriku. Namun entah mengapa, sosokmu tak juga hilang dari pikiranku. Ah, kamu. Aku merindukanmu, kekasihku. Ralat, mantan kekasihku. Salahkah jika aku terus menimang cinta ini sendiri, untukmu?

Pagi ini, kau merangkum lagi ingatanku. Dalam gigil dan getar duka, dalam kenang lalu, dalam airmata. Hingga terhempas ku mengerti, berjalan dari tempat yg dingin. Sepi, tanpa tepi. Aku telah berfikir banyak tentangmu, ataukah? Ataukah kau tak pernah menghitung? Airmata dan kebencianku yg tersisa. Sampai hari ini. Bunga-bunga, katakanlah aku masih di sini, menantinya.