Ada bayangan yang datang perlahan memendar kesunyian. Lagi, sosok lelaki itu kembali lagi, memberi kesesakan di rongga hati. Ah entahlah, bayangan lelaki itu semakin kuat menghantui. Menghantui pikiranku. Sudah ku coba untuk menepis segala bayangan itu. Kamu, iya kamu. Lelaki yang dalam detik pertama sudah mengunci hatiku, membekukan otakku, mengelukan lidahku, terpaku. Seperti orang bodoh? Memang.
Aku percaya cinta pada pandangan pertama. Dan mungkin kini aku sedang mengalaminya. Pertemuan pertamaku dengannya, aku merasa bahagia. Rindu semakin menggebu seiring berjalannya waktu. Aku mencari sosoknya di setiap sudut koridor, hanya untuk melepas rindu. Bodohkah? Bodohkah jika aku merindukan seseorang yang baru ku temui sekali?
Awalnya aku mengira ini hanya obsesi belaka. Hanya cinta yang dipenuhi nafsu, bukan murni perasaan yang sebenarnya. Namun, kini aku percaya, kini aku tahu, aku benar mencintainya dan ini bukan sebuah obsesi belaka. Iya, seperti itu.
Kejadian itu sudah 7 bulan berlalu. Namun, aku masih mengingat indah semua memori yang ku lakukan bersamamu. Walaupun pada kenyataannya, memori itu membawa luka yang selalu melumat hati perlahan. Jika aku tak bangkit dari kejadian dulu, mungkin kini hatiku telah mati, jiwa ku melayang pergi walau raga masih tetap disini, di bumi yang penuh dengan fana, penuh dengan kenyataan yang menyakitkan.
”Bagaimana?”
”Apa aku harus menjawabnya sekarang, Raf?”
”Kalau kamu tidak siap, aku tidak akan memaksa kamu untuk menjawab. Asalkan kamu tau aku mencintaimu pun, aku sudah bahagia, Na.”
”Jangan pernah tinggalin aku.”
”Jadi?”
Aku mengangguk pelan, lalu ku lihat senyum di wajahnya. ”Jangan pernah buat aku ngerasa sendiri, ya. Aku terlalu takut untuk terluka.”
”Iya.”
-----------------------------------------------------------
Malam ini aku disini, di sebuah foodcourt yang berada di sebuah mall ternama. Tepat 3 bulan yang lalu, aku merajut asmara dengan lelaki tinggi itu. Kini aku menunggunya untuk makan malam. Namun, betapa terkejutnya aku ketika ku lihat seseorang yang ku sayangi, berjalan mesra dengan sosok perempuan lain. Bisa kau bayangkan? Ini hari jadianku, dan aku mendapatkan hadiah yang luar biasa. Ya, luar biasa menyakitkan. Air mataku terjatuh perlahan. Aku pun memutuskan untuk menghampirinya
”Selamat malam, Rafli.”
”Nisrina? Kamu ngapain disini?”
”Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Raf! Siapa dia?”
”Dia pacar aku, Na.”
”Jadi selama ini aku kamu anggap apa? Ha? Bajingan! Kita putus!”
Aku berlari keluar. Angin malam berhembus kencang. Dingin, sangat dingin. Air hujan pun menetes perlahan. Lalu lama kelamaan menjadi deras, sederas air mataku saat ini. Aku tak perduli jika aku harus sakit, hatiku lebih sakit dari apapun. Sungguh, luka ini begitu dalam, seolah menusuk rongga dada hingga terasa menyesakkan.
-----------------------------------------------------------
Sampai detik ini, kejadian itu masih terus terputar di sudut memoriku. Namun entah mengapa, sosokmu tak juga hilang dari pikiranku. Ah, kamu. Aku merindukanmu, kekasihku. Ralat, mantan kekasihku. Salahkah jika aku terus menimang cinta ini sendiri, untukmu?
Pagi ini, kau merangkum lagi ingatanku. Dalam gigil dan getar duka, dalam kenang lalu, dalam airmata. Hingga terhempas ku mengerti, berjalan dari tempat yg dingin. Sepi, tanpa tepi. Aku telah berfikir banyak tentangmu, ataukah? Ataukah kau tak pernah menghitung? Airmata dan kebencianku yg tersisa. Sampai hari ini. Bunga-bunga, katakanlah aku masih di sini, menantinya.
0 komentar:
Posting Komentar