Bahkan, jika aku tak mampu berucap, apa hatimu mampu membaca gelagatku?

Senin, 18 Januari 2016

Jangan

04.53 Posted by Unknown No comments

Kamu terlalu lama bersembunyi,
hingga jejak jejak kakimu tak ku lihat lagi.

Dalam hujan,
kenangan bersamamu terputar cepat,
aku cinta hujan; cinta kamu-pun.

Entah mengapa,
rasanya cinta tak pernah sesulit ini,
tak pernah pula serumit ini,
tak pernah pula...... sesakit ini.

Jangan datang,
jika hanya untuk bermain-main,
aku tak butuh.
Jangan datang,
jika hanya untuk persinggahan kesedihan,
aku juga ingin menemani saat bahagiamu.

Kamu terlalu mudah untuk datang dan pergi,
berkata rindu saat nyatanya tidak.
Tidakkah kamu berpikir?

Jangan datang,
jika hanya untuk membuka luka,
aku sudah cukup terluka sebelum kamu tiba.
Jangan datang,
hanya untuk memainkan ritme hidupku,
aku bukan mainanmu.

Jangan datang,
dan pergi,
sesuka hati,
perasaanku tak sebercanda itu.

Jangan menjadi berengsek yang datang dan kemudian pergi dengan mudahnya. Aku, tak butuh.

Sabtu, 09 Januari 2016

21.21 Posted by Unknown No comments

Aku mencintai orang yang mau duduk berdua menikmati kopi.

Di ujung senja.

Dengan sedikit percikan air langit.

Walau dingin,
kita akan saling menghangatkan.

Jumat, 08 Januari 2016

Kopi, 2

10.23 Posted by Unknown No comments

Malam ini ku hisap kembali aroma kopiku,
masih sama; seperti harum tubuhmu hari lalu.

Kita lama tak jumpa,

dan kamu tahu? Rindu.

Entah sejak kapan aku menjadi pecandu,
sebab saat aku merindukanmu,
ku nikmati kopi di cangkir keramik-ku
Rinduku setiap waktu,
itulah yang kusebut candu.

Malam ini begitu sesak ku rasa,
hingga sepagi ini aku masih tetap terjaga.

Karena,
Kamu mengajarkanku untuk bahagia dengan cara yang sederhana,
Hingga aku lupa,
Kamu bisa meninggalkanku kapan saja, sesederhana itu.

Bukan,
bukan aku tak lagi mencintai kopiku.
Aku hanya berusaha menutup rasaku; untuk kunikmati sendiri, tanpa perlu kamu tahu.

Ah, sudah kubilang sejak tadi,
entah dari kapan aku menjadi pecandu; pecandu kopi.

Pergilah,
pergilah sejauh yang kamu bisa.

Sebab malam ini kopiku terlalu pahit untuk kunikmati,
dan kamu hanya menjadi bayangan yang menghilang bersama asap yang tersembul dari kopiku.

Yang perlu kamu tahu,
Aku menyayangimu, dan akan selalu.

Kamis, 07 Januari 2016

Kopi; 1

06.34 Posted by Unknown No comments

Kepada yang dicinta, aku tidak pernah lupa menyelipkan namamu dalam doaku, semoga kamupun begitu.

**

Malam ini langit terlihat cerah. Entah mengapa, sedang berbahagia, mungkin?
Sama halnya seperti diriku di malam sunyi ini.
Aku bahagia,
ketika ku lihat di langit,
ribuan bintang bercahaya menemani rembulan.
Ah, yang paling membahagiakan adalah,
ku lihat kamu di ujung sana,
ya, bintang yang paling terang.

Aku bahagia,
setiap kali aku mampu berkabar denganmu.
Dan malam ini, rasanya bahagiaku lebih dari biasanya,

Kamu; alasanku untuk tetap bahagia.

**

Kamu adalah gula dalam kopiku,
yang selalu ku hisap aromanya setiap waktu.
Manis.

Kamu adalah gula dalam kopiku,
secangkir kepahitan hidupku terasa manis jika aku bersamamu.
Manis.

Kamu adalah gula dalam kopiku,
bagai candu yang menelusup ke dalam sistem syaraf pusatku.
Lagi, manis.

Kamu, pemanis hidup yang saat ini sedang Tuhan titipkan padaku.
Semoga, aku tidak lupa diri.

**

Aku, terlalu, biarlah begitu.
Kamu? Aku tak perduli. Yang jelas, aku, memang terlalu.

Senin, 22 September 2014

07.03 Posted by Unknown No comments

Jika yang kamu inginkan adalah kepergianku, maka aku akan pergi.

Sejatinya, cinta itu saling membahagiakan, begitu yang kubaca di setiap buku roman. Hah. Klasik. Nyatanya, kini cintaku hanya untuk membahagiakan sepihak. Ya, membahagiakan kamu.

Apa artinya jika berjuang sendirian?
Apa artinya jika berjalan sendirian?
Apa artinya jika..... mencintai sebelah pihak?

Aku mencintaimu, sayangnya, kamu tidak.

Apa kabar malam lalu, saat kau datang membawa harapan?
Dan...... Apa kabar malam ini, ketika kau hilang tanpa setapak jejak yang kau tinggalkan?

Semudah itu untuk pergi?

Apa kabar janji-janji yang dahulu kau ucapkan?

Ah, aku terlalu berharap.

***

Nyatanya, kamu tetap pergi dan tak lagi perduli,
pertanyaanku, apa salahku?

***

Sebab menjadi tidak peduli itu sulit, terlebih sakit. Jika kamu mampu tidak peduli padaku, tolong ajarkan aku untuk tidak juga peduli padamu.

Selamat malam, semoga hidupmu selalu bahagia.

Dan Aku Melupakanmu

00.36 Posted by Unknown No comments

   Karena yakin lah, cepat atau lambat aku tahu, akhir dari segalanya ini memang akan dan pasti ada. Rasa sayang ini memang tidak akan hilang dan akan selalu ada, akupun masih bisa merasakan nya. Tapi ini hanya berlaku untuk rasa sayang ku kepada mu, sayang. Kamu padaku? Aku rasa..... tidak.

   Karena kamu kini berbeda, pergi, dan tak ku kenal lagi. Aku tahu, ini semuanya aneh, bahkan saat kamu pergi aku masih disini, masih merasakan hal yang sama. Hal yang dulu bahkan hingga saat ini aku rasa, untuk kamu. Namun, kamu terus melangkah. Tak menoleh sedikitpun pada aku. Aku yang selalu hendak menggapaimu. Aku yang selalu berdiri dibelakangmu. Aku yang......

   Aku yang berjuang setiap harinya, karena rasa ini yang selalu menguatkan ku. Kadang atau bahkan seringkali kamu tak pernah menoleh atau mungkin menghargai perasaan ini, namun aku tak peduli dengan semuanya. Tapi kini... Aku tau aku salah, terlalu lama menahan rasa sakit hanya membuat ku semakin terlalu sayang kepadamu. Tapi sekarang? Masih ku coba untuk semuanya, karena... butuh proses...

   Jika kamu inginkan aku pergi, maka aku akan pergi. Jika kamu inginkan aku menjauh, maka aku akan jauh. Jika kamu inginkan aku meninggalkanmu, maka aku akan tinggalkan. Namun, tidak untuk sekarang. Tidak untuk saat ini yang nyatanya aku masih tak mampu. Tunggulah, tunggulah sekejap lagi. Bersabarlah. Bersabarlah sebentar lagi. Aku akan berlari, tak perduli lagi. Namun bukan sekarang, hingga saatnya nanti.

   Ya, bukan sekarang. Sekarang aku masih lelah, masih sakit, walau aku masih berusaha untuk bertahan, mempertahankan kamu. Tapi, apa aku masih bisa? Sulit..
Sekali masih aku bisa maafkan, dua, tiga, bahkan empat kali pun, pintu maaf ku selalu terbuka. Walau aku melihat semuanya dengan mata kepala aku sendiri, walau aku merasa sakit yang begitu, disini. Nyatanya, terlalu sulit jika kepercayaan sudah dirusak.

   Aku masih bertahan walau aku disakiti. Aku masih mampu mencinta walau dikhianati. Aku masih selalu menunggu walau kamu datang dan pergi. Apa tak ada rasa bersalah? Ketika yang ku tahu kamu bersamaku namun hatimu bukan untukku? Lalu? Mengapa? Mengapa kamu mau jika nyatanya tak ada cinta dalam hatimu?

   Aku rasa aku salah orang. Aku kira kamu berbeda. Aku tunggu kamu dan semuanya hilang.
Aku rasa aku memang salah orang, semuanya memang hanya omong kosong belaka, semua ucapan mu hanya tinggal ngiangan, janji mu itu.... ah sudahlah. Mana janji mu yang akan berusaha menjadikan aku orang pertama yang tahu kamu sudah menjadi seperti yang dulu lagi? Mana? Allah tau mana yang terbaik:)

   Dan kamu pergi, tak kembali. Lalu, mungkinkah nyatanya kamu bukan yang terbaik untukku? Tak apa. Aku tak apa-apa. Aku hanya menyayangkan, mengapa engkau mau jika nyatanya kau tak mau? Memberi harapan palsu? Ah, terimakasih, sayang. Aku cukup muak untuk sebuah harapan.

   Dan aku sudah tak mau lagi dengan semua harapan itu. Aku adalah lelaki yang pertama sakit karena harapanmu itu, maka layak jika aku harus kalah dengan semua keadaan ini; aku tak mampu.
   Terima kasih atas 2 tahun yang sangat berkesan. Tapi maaf jika aku harus menghapus kamu di pikiran ku, dan aku harus menghilangkan semua tentang kamu, atau akupun tak akan lagi mengenal mu. Aku sudah terlalu sakit, walau Tuhan tau itu bukan cara yang baik, tapi biarlah, ini cara ku untuk bisa menghapus semua tentang mu.

   Untuk kamu, dengarkan aku, sekali ini saja. Aku mencintaimu, dengan segala kekuranganku. Aku menyayangimu, dengan segala kemampuanku. Mungkin, kini semuanya telah berubah. Telah berganti. Rasa ini telah mati. Tapi, jika kamu masih membutuhkan aku, datanglah. Karena aku tak akan mendatangimu, lagi.

Sincerelly, yours.

Hawa und Medan.

Minggu, 17 Agustus 2014

08.20 Posted by Unknown No comments

Sedikit-sedikit lupa, sedikit-sedikit inget. Ya-elah.

Jumat, 08 Agustus 2014

Biarkan ini Indah meski tak Bernama

22.50 Posted by Unknown No comments

Cinta sejati itu memberi tanpa harus meminta; dari kamu, orang yang ku sayang.

***

Dulu, aku percaya dan yakin, jika cinta itu harus memiliki. Namun kini, percaya ku berganti. Nyatanya, aku mencintai, dan saat aku belajar mencintai, harusnya aku sadar, aku harus pula belajar untuk melepaskan. And then, I can‘t handle it. Kamu pergi, dan aku tak pernah siap. Lalu memaksa siap? Ah pintar sekali kamu, kamu benar, selalu benar.

Dan kini, kepercayaan ku hanya tinggal sebuah nama, dan seiring berjalan nya waktu semuanya berubah, bukan? Dan akhirnya kamu pergi; lalu ku sadar cinta tak harus memiliki itu memang ada, kali ini aku percaya dan sekarang aku merasakan nya.

Wahai, aku sedang berjalan untuk melupakanmu. Maksudku, menyimpan kenangan itu. Maka, bolehkah aku memohon? Bolehkah aku memohon untuk kamu, berhentilah menghantui aku, berhentilah membayangi hidupku. Ataukah? Ini hanya karena aku yang terlalu?

Kenangan yang memang susah untuk ku lepas atau bahkan akan tetap hinggap disini. Huh, sepertinya ini aku, yang terlalu kepadamu, terlalu mencintai mu. Apa aku salah terlalu tulus? Cinta memang rumit, di saat sudah berekspetasi tinggi dan berangan-angan indah.... Ahh sudahlah, semuanya sudah hilang apalagi yang harus aku sesali?
Kamu pernah bilang, kan, "biarkan ini indah meski tak bernama." Tapi.. Aku bisa sebut ini indah jika memang rasa ini tetap saling menyatu. Tapi jika kamu membagi rasa ini, bagaimana bisa kau sebut indah? But you taught me to be a good person, as always.

Dan kamu, terbaik, pada masamu. Ku harap aku pun begitu, yang terbaik, pada masaku. Aku harap, kamu tetap menyimpan aku dalam pikirmu, dalam berkas kenangan, walau kau pendam, aku takkan busuk didalamnya. Hanya untuk mengingatkan, bahwa aku pernah bersamamu dalam waktu yang terbaik yang Tuhan berikan.

Kita akan bersama, akan terus bersama dalam waktu yang tak akan pernah kita tentukan.

Boleh aku minta satu syarat? Biarkan rasa sayang ini melebur menjadi satu dalam jiwa, agar tak pernah hilang dan tak pernah pergi,selamanya.
Terima kasih.

Selamat malam,
Hawa und Medan.

Kamis, 07 Agustus 2014

23.31 Posted by Unknown No comments

”I can‘t explain what I feel right now. You are always in my heart. I don‘t know why, but my heart did. I think you should know, but then, I know, you don‘t care, about everything, about my heart, about me —especially. I love you, with all my heart.“

—Me.

00.35 Posted by Unknown No comments

”Kalo aku tau sekarang kita bakal jadi saling melupakan gini, dulu aku gaakan terima kamu. Biarin gaada status yang penting kita selalu kemana-mana bareng, toh kita tau hati kita itu buat siapa. Ga kayak sekarang, hati aku masih buat kamu, eh hati kamu nya udah pergi jauh entah kemana. Hehe.“

Kamis, 31 Juli 2014

Terimakasih, untuk Kamu.

15.01 Posted by Unknown No comments

Karena sabar itu tak ada batasnya..

Maka, jika sabar tak ada batas, akankah kebahagaiaan itu dapat terlaksana?
Jika kita terus bersabar, apakah.... Apakah hanya aku yang bisa bersabar sedangkan dia tidak?
Apakah memperjuangkan orang yang tidak seharusnya di perjuangkan itu indah?
Jika semua dilakukan, bagaimana jika aku lelah dan sudah mencapai titik jenuhku? Apa aku boleh berhenti? Padahal, rasanya ingin maju, selalu menuju kamu. Namun —lagi rasa lelah dan jenuh terus menderu-deru...

Dan kali ini, entah yang sudah keberapa kali, aku sudah tak mampu lagi menghitungnya; dia. Lagi-lagi dia? Iya. Hanya dia yang terus memenuhi ruang hatiku. Jika kamu bawakan aku ratusan bahkan ribuan yang lain, aku dengan tegas menolak. Karena aku hanya ingin dia. Entah untuk kesekian —lagi, rasa jenuh ini hadir kembali, kesabaran ku diuji lagi, haruskah aku berhenti? Walau kamu bahagia yang ku nanti?

Jelas, sangat jelas aku coba tolak rasa jenuh ini. Tapi..... Tapi hal-hal yang menjurus dengan kamu terus saja berputar di kepala, tanpa aku sadari semua pikiran ini sudah terkontaminasi dengan sebuah zat yang bernama ”kamu“.

Hai, tak pernah sadarkah kamu?

Kamu mungkin tak akan pernah tahu; aku disini menunggu, dengan segala kasih sayangku, dan aku disini..... Apa perlu aku buktikan besarnya rasa sayang ini?

Lagi-lagi kamu dan terus saja kamu, tak pernah habis pikir secepat ini aku bisa nyaman dan secepat itu pula kamu katakan ”rasa nyaman itu udah gaada lagi“.

Dan sayangnya, aku bukan kamu, sayang. Aku bukan orang yang bisa dengan mudahnya meninggalkan kamu setelah aku rasa, kamu yang tepat, untukku, walau mungkin tidak untukmu. Seperti sebuah syair yang mengatakan, 'I‘m not the only one for you, but you‘re the only one for me' and it's true, dearest.

Dan sepenggal syair itu mungkin telah mewakili perasaanku selama ini. Disaat semuanya telah terjadi, yasudah, terjadilah, apa aku harus meratapi? Tentu saja tidak.
Sayang, ini aku, yang tak pernah peduli ucapan orang lain; tak pernah peduli kata-kata orang lain. Aku disini, sayang, di hadapanmu. Sesakit apapun yang pernah kamu lakukan terhadap ku; aku maafkan; karena cinta selalu memaafkan dan karena kamulah aku pun bisa belajar ikhlas.

Kamu tahu? Orang lain selalu bilang, aku adalah manusia terbodoh. Ah, aku memang bodoh, ya? Terlalu mencintai kamu, juga terlalu memaafkan kamu. Mau bagaimana lagi? Nyatanya sudah begini. Aku mencintaimu dengan selalu, walau kamu tidak. Ah, bukan aku ingin meratapi, bukan pula ingin mengharap kamu kembali, karena nyatanya rasa kamu telah mati, bukan? Jadi, intinya aku hanya ingin kamu tahu, aku mencintaimu seperti tak ada akhir, dan biarlah ini mengalir, untuk aku nikmati, sendiri.

Dan, jika aku meminta harapan itu terbuka sedikit lagi, apakah bisa? Aku akan berusaha memperjuangkan cintaku ini, akan berusaha dengan sekuat tenagaku, walau itu —mugkin sedikit mustahil, tapi apa salahnya? Apa salahnya aku mencoba sampai di puncak titik jenuh ku? Di dunia ini tak ada yg mustahil, bukan?
Ah, menurutku ada satu yg mustahil di dunia ini, apa? Rasa nyaman kamu terhadapku kembali. Aku rasa itu mustahil he he. Biarkan aku mencintai mu dengan caraku, dan biarkan aku jadi diriku sendiri, karena cinta selalu menerima apa adanya tanpa ada paksaaan.

Terimakasih untuk selalu menerimaku apa adanya, walau kini tidak.
Terimakasih telah menemani hari ku, walau kini tidak.
Terimakasih telah memperjuangkan aku, walau kini tidak.
Terimakasih untuk selalu ada, walau kini tidak.
Terimakasih untuk selalu memahami ku, walau kini tidak.
Terimakasih untuk mencintaiku, walau kini tidak.
Ah, terimakasih sudah menemani, walau kini tidak.
Terimakasih telah datang, walau kini pergi.
Terimakasih telah mendekat, walau kini menjauh.
Terimakasih pernah peduli, walau kini acuh tak acuh.
Terimakasih telah memberi harapan, walau kini pergi meninggalkan.
Terimakasih.

***

Lagi-lagi, ini untuk kamu, wahai.

Selamat Malam,
—Hawa und Medan

05.04 Posted by Unknown No comments

”Maka sejak saat itu, aku berhenti mencintaimu. Mengejar kamu yang telah berjalan lebih dahulu. Bukan, bukan untuk mencintaimu —lagi. Tapi untuk menyamakan langkah kaki denganmu, yang lebih dulu melupakanku. Dan saatnya nanti; saat langkahku mensejajari langkahmu, aku telah menang atas kamu; menang untuk melupakanmu, dan menang untuk berdamai dengan masalalu —saat bersamamu.“

Rabu, 30 Juli 2014

18.38 Posted by Unknown No comments

How r you? How's ur day.... eum... without me? I miss you, k. I miss you when you holding my hand, really. It sucks.

—Me.

Minggu, 20 Juli 2014

08.23 Posted by Unknown No comments

Untuk kamu yang tengah bersemayam di dalam hatiku.

***

Hai kamu. Jika kamu hendak bertanya apakah aku kuat menghadapi kamu, aku kuat, cukup kuat dengan semua kesabaran ku, karena aku tau sabar itu tidak batas nya. Iya, ngga ada. Tapi, jika aku memutuskan untuk berhenti, apa itu salah? Apa aku akan menyesal? Entahlah, aku pun sudah hampir menyelesaikan segalanya, tapi rasa sabar ini menahan ku; untuk sebentar lagi.

Hai, kamu. Ah, aku terlalu munafik. Maafkan aku, ya? Terlalu munafik dalam mencintaimu, mengatakan aku baik-baik saja, saat aku sadar nyatanya tak begitu. Aku mencintai kamu, dengan segala keikhlasan ku. Entahlah, aku bahkan terlalu sulit melepasmu pedahal aku tahu, semakin aku menggenggam kamu, semakin menjalar pula rasa sakit ini.

Hai, kamu. Kadang aku sering berpikir, apakah kamu ikhlas? Apakah kamu sungguh mencintai aku apa adanya? Pedahal, pertama kali kamu bilang akan mencintai aku apa adanya. Tapi, apa nyatanya? Tarik lagi saja bualanmu itu, tak pantas kamu ucapkan 'lagi'.
Melepasmu? Apa itu cara terbaik yang harus aku lakukan? Eng.... Engga, aku tegaskan sekali lagi, tidak. Aku belum berpikir hingga sejauh itu. Lagipula, hati ini sudah tertutup rapat oleh 'kepalsuan cinta', mungkin? Tapi, lain cerita jika kamu yang melepas ku. Mungkin aku tak akan berpikir dua kali dan, ya, aku akan pergi, dan penyesalan itu, aku tunggu.

Sedikit menantang hatiku, ya? Iya, buat kamu, apasih yang ngga? Apasih yang ngga aku lakuin buat kamu? Aku mau kamu bahagia, tapi, kenapa? Kenapa kamu tidak membiarkan aku mencintaimu dengan caraku? Apakah aku patut mempertanyakan keikhlasanmu bersanding dengan ku saat ini? Karena nyatanya kamu menolakku, menolak aku dengan caramu. Cara yang mematikan, yah! Selamat, telah membuat ku seperti ini! Aku hanya ingin kita bahagia, tapi nyatanya, semakin dewasa kita semakin sulit menemukan cara untuk bahagia dengan sederhana. Apa harus dengan kesakitan yang terlalu agar aku bahagia? Maksudku, agar kamu bahagia? Karena nyatanya, bahagiamu adalah prioritasku.

Hai, kamu. Melihat kamu bahagia pun aku sudah sangat senang, walaupun nyatanya, kamu tak pernah memandang aku disini sedang apa, bertanya aku disini sedang apa dan apa yg sedang aku lakukan, apa itu cara mu agar kamu bahagia? Apa mungkin kamu hanya memprioritaskan kebahagiaan kamu saja? Tolonglah, sedikit saja lihat aku disini, apa tak cukup aku meminta tolong? Rasanya terlalu menyakitkan ya, bahkan mungkin seharusnya aku tidak perlu meminta untuk kamu melirik aku sedikit saja. Sesakit ini kah yang perlu aku rasakan? Ah, kamu, melirik aku sedikit saja pun rasa nya sulit, ya? Padahal kita sudah ada ikatan, walau tak terlalu sakral, tapi cukup lah; cukup untuk menunjukan bahwa diantara kita ada status lain. Gotcha! Kamu menang, sayang. Selalu menang. Bahagia untukku sederhana, melihatmu tersenyum karena tingkah ku saja, aku sudah bisa merasa terbang, karena melihat senyum lebar mu itu, aku sangat melayang. Aku, suka. As always.

Hai, kamu. Apa harus aku memohon dan berlutut di depan mu sambil beruraikan air mata dan menangisi kamu di bawah kaki kamu? Tentu saja tidak! Aku ini lelaki, dan mungkin kali ini mau kamu tak pernah melirik aku sekalipun aku sudah tak perduli lagi. Sakit? Ya sangat jelas! Coba bayangkan jika kamu di posisi aku, apa kamu kuat? Apa kamu bisa menghadapi aku jika aku punya sifat macam kamu begini? Aku rasa tak bisa. Iya, tidak bisa. Dan kamu, bisa cari di seluruh dunia apakah ada lelaki seperti aku? Menahan kesakitan demi melihat kamu bahagia... Ahh sayang, aku pasti akan lakukan apapun itu asalkan aku lihat bibir mu itu tersenyum lebar. Indah.

Hai, kamu. Aku berharap, kamu bisa menerima ku dengan apa adanya, apakah ini salah? Seperti yang kamu selalu bilang, mencintaku apa adanya. Akankah harapanku terwujud? Sebagaimana doaku yang seiring hembusan nafas selalu menyebutkan kamu, agar selalu bahagia. Silakan cari yang seperti aku, yang mau mencintaimu seperti aku, aku yakin, hanya aku yang mampu. Ahahahaha, apa aku terlalu berkhayal? Kurasa, tidak. Ah, sudahlah, sebagaimana aku berharap pun kamu mungkin tak akan mengerti, aku cukup saja, cukup untuk bahagiamu, senyum manismu, yang ku harap akan selalu terukir indah, disana.

***

Hai kamu, merasakah bahwa ini semua tentang kamu? Karena jujur, ini semua tentang kamu. Untuk kamu.

ps; Ini aku yang selalu berusaha membahagiakan kamu, bagaimanapun cara nya. Aku menyayangimu.

July, 20th 2014; 10:54 pm.
Hawa und Medan.

04.59 Posted by Unknown No comments

Cukup lewat telepati saja, cukup aku saja, karena aku tahu, dia tidak akan mungkin merindukan aku. Ah, apalah aku ini. Hanya masa lalu yang telah dilupakan, bukan? Cukup aku tau dia baik-baik saja, iya cukup. Bahkan mungkin terlalu cukup untuk seorang aku, siapalah aku ini untuknya. Karena tak sepantasnya aku merindukan orang, yg bahkan mungkin sedang dalam perjalanan mencari sejati yang lain. Bukan, bukan aku sudah melupakan juga, hanya saja rindu ini biar aku yg menyimpan, karena aku tahu, serindu apapun aku terhadap dia, dia tak akan menjemput rindu ini, rindu yg aku pendam, untuk dia.

Selasa, 15 Juli 2014

08.21 Posted by Unknown No comments

Aku ngga ngerti maksud dan tujuan kamu itu apa. Yang jelas aku....... jealous. Mungkin. Maaf, ya. Silakan mau bertingkah apalagi juga. Aku tak berhak atas apapun, kan? Yasudah. Aku simpan lukaku. Dan silakan berbahagia dengan yang baru. Aku (mencoba) ikhlas.

— Me.

Senin, 14 Juli 2014

07.59 Posted by Unknown No comments

Semalam lalu aku mimpiin kamu. Ah, lucu. Bahkan terlalu. Masa kamu mau datang ngasih surprise buat aku? Mimpi yang bener-bener mimpi. Ah, apa kamu merindu aku? Kalau aku sih, bisa dibilang iya. Bahkan terlalu iya, terlalu merindu. See you soon.

Rabu, 09 Juli 2014

04.34 Posted by Unknown No comments

Get well soon, k.

—Me.

Selasa, 08 Juli 2014

Wahai.

10.16 Posted by Unknown No comments

Untuk kamu yang selalu menginspirasi, dan kini tengah pergi, cinta selalu tahu kemana kamu harus pulang.

***

Kamu pergi jauh tak tahu entah kemana, relung hati kini terasa sepi, canda gurau kita kini hanya sebatas angan. Oh sayang, ku tau kini kamu bukanlah milik ku. Kamu; tengah merantau di hati yang lain. Namun aku percaya, cinta mu murni untuk ku, karena cinta tau kemana dia harus pulang.

Hai kamu, jangan kan memeluk, menatap mu saja kini aku tak sanggup. Lagi-lagi; jangan kan bercanda, mengucap sepatah kata pun aku tak mampu, karena hatiku masih tetap saja bergejolak saat aku melihatmu, hanya mampu melihatmu. Hanya itu.

Iya, hanya itu yang aku mampu, tak bisa lebih. Tak kuat barangkali, atau aku harus pura pura kuat di depan mu? Tak mungkin, itu semua mustahil, karena semuanya sudah terlanjur. Kamu; lain kali jika pergi, jangan seperti ini.

***

Karena aku lemah, dan kamu tahu itu. Selalu tahu. Kamu; kelemahanku. Apa? Apa yang harus aku lakukan? Berlari memelukmu hingga yang akan kudapati adalah tepisan tanganmu? Sesakit itu?

Mungkin, memang sesakit itu. Tapi entahlah, aku suka rasa sakit itu. Entah, kenapa. Bodoh? Iya memang aku bodoh. Mungkin aku terlalu tolol. Karena di saat kamu menginjak ku, dan aku terus bertahan; berdiri dihadapan mu. Seakan aku meminta belas kasihan kepadamu? Bukan. Aku hanya membuktikan betapa keras nya rasa ini untuk mu. Hanya untuk kamu.

Because this love's too strong. Hey! Cant you see? Harus dengan cara apalagi aku memberi bukti hanya agar kamu mengerti? Mengerti karena segalanya tentang mu itu ‘betapa’ juga ‘terlalu’. Harus ku jelaskan lagi sebelah mana? Karena nyatanya kamu tak pernah mau mengerti; aku, hingga perasaanku.

***

Buta cinta itu memang nyata. Yang jelas— sejelas-jelasnya- aku yang tersiksa, sedangkan kamu? Menikmati permainan ini dan yaa.. Gotcha!!!! Kamu hampir memenangkan nya. Aku tahu, kamu tak akan pernah bisa menyadari semuanya. Dan kejelasannya; satu yang pasti, hati ini tidak akan pernah bisa lepas dari kamu— hingga saat ini.

Haa. Iya, hati ini milikmu. Selalu begitu; yang entah sampai kapan terus begitu. Aku masih selalu rela menanti disini, melihat tawamu, melihat senyummu, melihat genggam tanganmu; bersamanya, yang selalu kau sebut kebahagiaan. Aku turut berbahagia, wahai kamu. Ah, terlalu naif, bahkan munafik, aku..... aku terluka. Tak kah kau sadari itu?

Mungkin kau sudah menghilangkan segalanya tentang aku dalam benak mu. Aku yang pernah ada di pikiran mu, aku yang pernah membuat mu tertawa, aku yang pernah membuat mu tersenyum indah, dan hampir membuatku jatuh di pangkuanmu. Hey! Sebegitu mudah nya kah kau melupakan aku? Padahal nyatanya; aku disini merana dan apakah kau tahu disini aku 'gila'? Cinta mu terlalu kuat bagiku.

Ralat, cinta ku terlalu kuat untukmu.

Ah, berbicara tentang kamu memang tak akan pernah ada habisnya. Aku suka, karena dengan begini, aku selalu mengingatmu; walau kamu tidak. Menyedihkan, ya? Ah, tak apa. Aku sudah terbiasa. Bahkan, hal menyakitkan yang mana darimu yang tak ku nikmati? Segalanya manis, wahai. Terlalu manis. Walau semakin manis, semakin sakit pula goresan-goresan disini. Iya, goresan yang telah kamu ukir.

***

Seperti yang ku katakan, aku senang bercerita tentangmu. Hingga tak terasa sudah semalam ini. Ralat; sepagi ini. Dan kamu tetap disini, dalam pikiran dan hatiku. Selalu.

Entah kamu bisa membaca sedikit tulisan ini atau bahkan kamu pura pura tak bisa membaca? Menutup mata? Tak apa, yang penting ini untuk mu. Iya, untuk kamu; dariku yang selalu membanggakan mu.

Selamat pagi,

Hawa und Medan.

Senin, 07 Juli 2014

Maaf, Semoga Kau tahu Jalan Pulang

08.49 Posted by Unknown No comments

Karena cinta selalu tahu, kapan dan kemana ia harus pulang.

***

Nyatanya tak perlu menjadi seorang yang paling pintar untuk menyadari bahwa kau dan aku tak lagi sejalan. Nyatanya, memang tak perlu menjadi sempurna hanya untuk merelakan bahwa kamu telah pergi; merantau, ke lain hati.
Kepada semesta, hati ini berdusta. Berbicara sekenanya, semaunya. Karena lagi-lagi, nyatanya engkau selalu memenangkan setiap perdebatan dalam jiwaku; namamu. Harusnya, ku ucap jujur saja, bahwa hatiku -masih selalu- mengingat namamu. Namun lagi, egoku selalu menang untuk menyembunyikannya.

Entah, bagaimana bisa, kita, begini? Sudahkah? Sudahkah segalanya? Lalu bagaimana nanti, jika aku sendiri disini? Lalu bagaimana nanti, jika kini kamu sendiri yang pergi? Mengapa? Mengapa segalanya terasa begitu cepat?

Bukan masalah merelakan, karena nyatanya aku tak rela, melihat engkau yang kini menggenggam tangannya. Bukan lagi tanganku, bukan lagi cintaku, bukan lagi... aku. Lalu, aku bisa apa?

Apa semesta mendengar do‘aku? Apa semesta mendengar pintaku? Apa.... Apa semesta mendengar setiap kali ku memanggil namamu, duhai? Apa semesta menyampaikan itu padamu? Apa semesta memberitahumu tiap kali aku merindu? Atau.... Atau semesta menyembunyikan segalanya dan engkau tak pernah bahkan tak akan pernah tahu?

Sedetik lalu, lagi-lagi aku mengingatmu. Ya, lagi-lagi kamu. Dan selalu kamu, apa kamu tahu? Sehari lalu, aku merindumu. Selalu begitu. Seminggu yang lalu, bahagia itu berlalu, dan aku tak mampu. Harusnya aku mengerti, mengerti bahwa hari ini akan tiba, dan engkau memilihnya. Bukan, bukan aku, tapi dia. Apa aku tak cukup mampu membuat mu bahagia? Apa hanya dia? Apa hanya dia yang mampu? Hingga aku berlalu begitu saja, seperti angin.

Semesta mendengarku, mendengar sakitku, mendengar perihku. Hujan.

Hai kamu, mungkin sudah selayaknya, dan sudah seharusnya aku belajar; merelakan. Karena nyatanya engkau begitu, dan terlalu mencintanya. Seperti aku, begitu dan terlalu; mencintaimu. Pergilah, dengan segenggam harapan yang kau sebut kebahagiaan. Dan aku disini diam, dengan segenggam yang ku sebut kepahitan.

Boleh aku sedikit mengingatkan? Kau boleh pergi, dan nyatanya kau telah pergi. Dan cinta, kau akan selalu tahu jalan pulang. Bukan begitu? Semoga.

Maaf, maaf jika aku masih selalu mengharapkan. Maaf jika aku masih selalu menantikan. Maaf jika aku masih saja mencinta. Karena pemenang selalu satu, bukan? Dan itu, kamu, wahai.