Bahkan, jika aku tak mampu berucap, apa hatimu mampu membaca gelagatku?

Jumat, 08 Agustus 2014

Biarkan ini Indah meski tak Bernama

22.50 Posted by Unknown No comments

Cinta sejati itu memberi tanpa harus meminta; dari kamu, orang yang ku sayang.

***

Dulu, aku percaya dan yakin, jika cinta itu harus memiliki. Namun kini, percaya ku berganti. Nyatanya, aku mencintai, dan saat aku belajar mencintai, harusnya aku sadar, aku harus pula belajar untuk melepaskan. And then, I can‘t handle it. Kamu pergi, dan aku tak pernah siap. Lalu memaksa siap? Ah pintar sekali kamu, kamu benar, selalu benar.

Dan kini, kepercayaan ku hanya tinggal sebuah nama, dan seiring berjalan nya waktu semuanya berubah, bukan? Dan akhirnya kamu pergi; lalu ku sadar cinta tak harus memiliki itu memang ada, kali ini aku percaya dan sekarang aku merasakan nya.

Wahai, aku sedang berjalan untuk melupakanmu. Maksudku, menyimpan kenangan itu. Maka, bolehkah aku memohon? Bolehkah aku memohon untuk kamu, berhentilah menghantui aku, berhentilah membayangi hidupku. Ataukah? Ini hanya karena aku yang terlalu?

Kenangan yang memang susah untuk ku lepas atau bahkan akan tetap hinggap disini. Huh, sepertinya ini aku, yang terlalu kepadamu, terlalu mencintai mu. Apa aku salah terlalu tulus? Cinta memang rumit, di saat sudah berekspetasi tinggi dan berangan-angan indah.... Ahh sudahlah, semuanya sudah hilang apalagi yang harus aku sesali?
Kamu pernah bilang, kan, "biarkan ini indah meski tak bernama." Tapi.. Aku bisa sebut ini indah jika memang rasa ini tetap saling menyatu. Tapi jika kamu membagi rasa ini, bagaimana bisa kau sebut indah? But you taught me to be a good person, as always.

Dan kamu, terbaik, pada masamu. Ku harap aku pun begitu, yang terbaik, pada masaku. Aku harap, kamu tetap menyimpan aku dalam pikirmu, dalam berkas kenangan, walau kau pendam, aku takkan busuk didalamnya. Hanya untuk mengingatkan, bahwa aku pernah bersamamu dalam waktu yang terbaik yang Tuhan berikan.

Kita akan bersama, akan terus bersama dalam waktu yang tak akan pernah kita tentukan.

Boleh aku minta satu syarat? Biarkan rasa sayang ini melebur menjadi satu dalam jiwa, agar tak pernah hilang dan tak pernah pergi,selamanya.
Terima kasih.

Selamat malam,
Hawa und Medan.

Kamis, 07 Agustus 2014

23.31 Posted by Unknown No comments

”I can‘t explain what I feel right now. You are always in my heart. I don‘t know why, but my heart did. I think you should know, but then, I know, you don‘t care, about everything, about my heart, about me —especially. I love you, with all my heart.“

—Me.

00.35 Posted by Unknown No comments

”Kalo aku tau sekarang kita bakal jadi saling melupakan gini, dulu aku gaakan terima kamu. Biarin gaada status yang penting kita selalu kemana-mana bareng, toh kita tau hati kita itu buat siapa. Ga kayak sekarang, hati aku masih buat kamu, eh hati kamu nya udah pergi jauh entah kemana. Hehe.“

Kamis, 31 Juli 2014

Terimakasih, untuk Kamu.

15.01 Posted by Unknown No comments

Karena sabar itu tak ada batasnya..

Maka, jika sabar tak ada batas, akankah kebahagaiaan itu dapat terlaksana?
Jika kita terus bersabar, apakah.... Apakah hanya aku yang bisa bersabar sedangkan dia tidak?
Apakah memperjuangkan orang yang tidak seharusnya di perjuangkan itu indah?
Jika semua dilakukan, bagaimana jika aku lelah dan sudah mencapai titik jenuhku? Apa aku boleh berhenti? Padahal, rasanya ingin maju, selalu menuju kamu. Namun —lagi rasa lelah dan jenuh terus menderu-deru...

Dan kali ini, entah yang sudah keberapa kali, aku sudah tak mampu lagi menghitungnya; dia. Lagi-lagi dia? Iya. Hanya dia yang terus memenuhi ruang hatiku. Jika kamu bawakan aku ratusan bahkan ribuan yang lain, aku dengan tegas menolak. Karena aku hanya ingin dia. Entah untuk kesekian —lagi, rasa jenuh ini hadir kembali, kesabaran ku diuji lagi, haruskah aku berhenti? Walau kamu bahagia yang ku nanti?

Jelas, sangat jelas aku coba tolak rasa jenuh ini. Tapi..... Tapi hal-hal yang menjurus dengan kamu terus saja berputar di kepala, tanpa aku sadari semua pikiran ini sudah terkontaminasi dengan sebuah zat yang bernama ”kamu“.

Hai, tak pernah sadarkah kamu?

Kamu mungkin tak akan pernah tahu; aku disini menunggu, dengan segala kasih sayangku, dan aku disini..... Apa perlu aku buktikan besarnya rasa sayang ini?

Lagi-lagi kamu dan terus saja kamu, tak pernah habis pikir secepat ini aku bisa nyaman dan secepat itu pula kamu katakan ”rasa nyaman itu udah gaada lagi“.

Dan sayangnya, aku bukan kamu, sayang. Aku bukan orang yang bisa dengan mudahnya meninggalkan kamu setelah aku rasa, kamu yang tepat, untukku, walau mungkin tidak untukmu. Seperti sebuah syair yang mengatakan, 'I‘m not the only one for you, but you‘re the only one for me' and it's true, dearest.

Dan sepenggal syair itu mungkin telah mewakili perasaanku selama ini. Disaat semuanya telah terjadi, yasudah, terjadilah, apa aku harus meratapi? Tentu saja tidak.
Sayang, ini aku, yang tak pernah peduli ucapan orang lain; tak pernah peduli kata-kata orang lain. Aku disini, sayang, di hadapanmu. Sesakit apapun yang pernah kamu lakukan terhadap ku; aku maafkan; karena cinta selalu memaafkan dan karena kamulah aku pun bisa belajar ikhlas.

Kamu tahu? Orang lain selalu bilang, aku adalah manusia terbodoh. Ah, aku memang bodoh, ya? Terlalu mencintai kamu, juga terlalu memaafkan kamu. Mau bagaimana lagi? Nyatanya sudah begini. Aku mencintaimu dengan selalu, walau kamu tidak. Ah, bukan aku ingin meratapi, bukan pula ingin mengharap kamu kembali, karena nyatanya rasa kamu telah mati, bukan? Jadi, intinya aku hanya ingin kamu tahu, aku mencintaimu seperti tak ada akhir, dan biarlah ini mengalir, untuk aku nikmati, sendiri.

Dan, jika aku meminta harapan itu terbuka sedikit lagi, apakah bisa? Aku akan berusaha memperjuangkan cintaku ini, akan berusaha dengan sekuat tenagaku, walau itu —mugkin sedikit mustahil, tapi apa salahnya? Apa salahnya aku mencoba sampai di puncak titik jenuh ku? Di dunia ini tak ada yg mustahil, bukan?
Ah, menurutku ada satu yg mustahil di dunia ini, apa? Rasa nyaman kamu terhadapku kembali. Aku rasa itu mustahil he he. Biarkan aku mencintai mu dengan caraku, dan biarkan aku jadi diriku sendiri, karena cinta selalu menerima apa adanya tanpa ada paksaaan.

Terimakasih untuk selalu menerimaku apa adanya, walau kini tidak.
Terimakasih telah menemani hari ku, walau kini tidak.
Terimakasih telah memperjuangkan aku, walau kini tidak.
Terimakasih untuk selalu ada, walau kini tidak.
Terimakasih untuk selalu memahami ku, walau kini tidak.
Terimakasih untuk mencintaiku, walau kini tidak.
Ah, terimakasih sudah menemani, walau kini tidak.
Terimakasih telah datang, walau kini pergi.
Terimakasih telah mendekat, walau kini menjauh.
Terimakasih pernah peduli, walau kini acuh tak acuh.
Terimakasih telah memberi harapan, walau kini pergi meninggalkan.
Terimakasih.

***

Lagi-lagi, ini untuk kamu, wahai.

Selamat Malam,
—Hawa und Medan

05.04 Posted by Unknown No comments

”Maka sejak saat itu, aku berhenti mencintaimu. Mengejar kamu yang telah berjalan lebih dahulu. Bukan, bukan untuk mencintaimu —lagi. Tapi untuk menyamakan langkah kaki denganmu, yang lebih dulu melupakanku. Dan saatnya nanti; saat langkahku mensejajari langkahmu, aku telah menang atas kamu; menang untuk melupakanmu, dan menang untuk berdamai dengan masalalu —saat bersamamu.“

Rabu, 30 Juli 2014

18.38 Posted by Unknown No comments

How r you? How's ur day.... eum... without me? I miss you, k. I miss you when you holding my hand, really. It sucks.

—Me.

Minggu, 20 Juli 2014

08.23 Posted by Unknown No comments

Untuk kamu yang tengah bersemayam di dalam hatiku.

***

Hai kamu. Jika kamu hendak bertanya apakah aku kuat menghadapi kamu, aku kuat, cukup kuat dengan semua kesabaran ku, karena aku tau sabar itu tidak batas nya. Iya, ngga ada. Tapi, jika aku memutuskan untuk berhenti, apa itu salah? Apa aku akan menyesal? Entahlah, aku pun sudah hampir menyelesaikan segalanya, tapi rasa sabar ini menahan ku; untuk sebentar lagi.

Hai, kamu. Ah, aku terlalu munafik. Maafkan aku, ya? Terlalu munafik dalam mencintaimu, mengatakan aku baik-baik saja, saat aku sadar nyatanya tak begitu. Aku mencintai kamu, dengan segala keikhlasan ku. Entahlah, aku bahkan terlalu sulit melepasmu pedahal aku tahu, semakin aku menggenggam kamu, semakin menjalar pula rasa sakit ini.

Hai, kamu. Kadang aku sering berpikir, apakah kamu ikhlas? Apakah kamu sungguh mencintai aku apa adanya? Pedahal, pertama kali kamu bilang akan mencintai aku apa adanya. Tapi, apa nyatanya? Tarik lagi saja bualanmu itu, tak pantas kamu ucapkan 'lagi'.
Melepasmu? Apa itu cara terbaik yang harus aku lakukan? Eng.... Engga, aku tegaskan sekali lagi, tidak. Aku belum berpikir hingga sejauh itu. Lagipula, hati ini sudah tertutup rapat oleh 'kepalsuan cinta', mungkin? Tapi, lain cerita jika kamu yang melepas ku. Mungkin aku tak akan berpikir dua kali dan, ya, aku akan pergi, dan penyesalan itu, aku tunggu.

Sedikit menantang hatiku, ya? Iya, buat kamu, apasih yang ngga? Apasih yang ngga aku lakuin buat kamu? Aku mau kamu bahagia, tapi, kenapa? Kenapa kamu tidak membiarkan aku mencintaimu dengan caraku? Apakah aku patut mempertanyakan keikhlasanmu bersanding dengan ku saat ini? Karena nyatanya kamu menolakku, menolak aku dengan caramu. Cara yang mematikan, yah! Selamat, telah membuat ku seperti ini! Aku hanya ingin kita bahagia, tapi nyatanya, semakin dewasa kita semakin sulit menemukan cara untuk bahagia dengan sederhana. Apa harus dengan kesakitan yang terlalu agar aku bahagia? Maksudku, agar kamu bahagia? Karena nyatanya, bahagiamu adalah prioritasku.

Hai, kamu. Melihat kamu bahagia pun aku sudah sangat senang, walaupun nyatanya, kamu tak pernah memandang aku disini sedang apa, bertanya aku disini sedang apa dan apa yg sedang aku lakukan, apa itu cara mu agar kamu bahagia? Apa mungkin kamu hanya memprioritaskan kebahagiaan kamu saja? Tolonglah, sedikit saja lihat aku disini, apa tak cukup aku meminta tolong? Rasanya terlalu menyakitkan ya, bahkan mungkin seharusnya aku tidak perlu meminta untuk kamu melirik aku sedikit saja. Sesakit ini kah yang perlu aku rasakan? Ah, kamu, melirik aku sedikit saja pun rasa nya sulit, ya? Padahal kita sudah ada ikatan, walau tak terlalu sakral, tapi cukup lah; cukup untuk menunjukan bahwa diantara kita ada status lain. Gotcha! Kamu menang, sayang. Selalu menang. Bahagia untukku sederhana, melihatmu tersenyum karena tingkah ku saja, aku sudah bisa merasa terbang, karena melihat senyum lebar mu itu, aku sangat melayang. Aku, suka. As always.

Hai, kamu. Apa harus aku memohon dan berlutut di depan mu sambil beruraikan air mata dan menangisi kamu di bawah kaki kamu? Tentu saja tidak! Aku ini lelaki, dan mungkin kali ini mau kamu tak pernah melirik aku sekalipun aku sudah tak perduli lagi. Sakit? Ya sangat jelas! Coba bayangkan jika kamu di posisi aku, apa kamu kuat? Apa kamu bisa menghadapi aku jika aku punya sifat macam kamu begini? Aku rasa tak bisa. Iya, tidak bisa. Dan kamu, bisa cari di seluruh dunia apakah ada lelaki seperti aku? Menahan kesakitan demi melihat kamu bahagia... Ahh sayang, aku pasti akan lakukan apapun itu asalkan aku lihat bibir mu itu tersenyum lebar. Indah.

Hai, kamu. Aku berharap, kamu bisa menerima ku dengan apa adanya, apakah ini salah? Seperti yang kamu selalu bilang, mencintaku apa adanya. Akankah harapanku terwujud? Sebagaimana doaku yang seiring hembusan nafas selalu menyebutkan kamu, agar selalu bahagia. Silakan cari yang seperti aku, yang mau mencintaimu seperti aku, aku yakin, hanya aku yang mampu. Ahahahaha, apa aku terlalu berkhayal? Kurasa, tidak. Ah, sudahlah, sebagaimana aku berharap pun kamu mungkin tak akan mengerti, aku cukup saja, cukup untuk bahagiamu, senyum manismu, yang ku harap akan selalu terukir indah, disana.

***

Hai kamu, merasakah bahwa ini semua tentang kamu? Karena jujur, ini semua tentang kamu. Untuk kamu.

ps; Ini aku yang selalu berusaha membahagiakan kamu, bagaimanapun cara nya. Aku menyayangimu.

July, 20th 2014; 10:54 pm.
Hawa und Medan.