Bahkan, jika aku tak mampu berucap, apa hatimu mampu membaca gelagatku?

Minggu, 20 Juli 2014

04.59 Posted by Unknown No comments

Cukup lewat telepati saja, cukup aku saja, karena aku tahu, dia tidak akan mungkin merindukan aku. Ah, apalah aku ini. Hanya masa lalu yang telah dilupakan, bukan? Cukup aku tau dia baik-baik saja, iya cukup. Bahkan mungkin terlalu cukup untuk seorang aku, siapalah aku ini untuknya. Karena tak sepantasnya aku merindukan orang, yg bahkan mungkin sedang dalam perjalanan mencari sejati yang lain. Bukan, bukan aku sudah melupakan juga, hanya saja rindu ini biar aku yg menyimpan, karena aku tahu, serindu apapun aku terhadap dia, dia tak akan menjemput rindu ini, rindu yg aku pendam, untuk dia.

Selasa, 15 Juli 2014

08.21 Posted by Unknown No comments

Aku ngga ngerti maksud dan tujuan kamu itu apa. Yang jelas aku....... jealous. Mungkin. Maaf, ya. Silakan mau bertingkah apalagi juga. Aku tak berhak atas apapun, kan? Yasudah. Aku simpan lukaku. Dan silakan berbahagia dengan yang baru. Aku (mencoba) ikhlas.

— Me.

Senin, 14 Juli 2014

07.59 Posted by Unknown No comments

Semalam lalu aku mimpiin kamu. Ah, lucu. Bahkan terlalu. Masa kamu mau datang ngasih surprise buat aku? Mimpi yang bener-bener mimpi. Ah, apa kamu merindu aku? Kalau aku sih, bisa dibilang iya. Bahkan terlalu iya, terlalu merindu. See you soon.

Rabu, 09 Juli 2014

04.34 Posted by Unknown No comments

Get well soon, k.

—Me.

Selasa, 08 Juli 2014

Wahai.

10.16 Posted by Unknown No comments

Untuk kamu yang selalu menginspirasi, dan kini tengah pergi, cinta selalu tahu kemana kamu harus pulang.

***

Kamu pergi jauh tak tahu entah kemana, relung hati kini terasa sepi, canda gurau kita kini hanya sebatas angan. Oh sayang, ku tau kini kamu bukanlah milik ku. Kamu; tengah merantau di hati yang lain. Namun aku percaya, cinta mu murni untuk ku, karena cinta tau kemana dia harus pulang.

Hai kamu, jangan kan memeluk, menatap mu saja kini aku tak sanggup. Lagi-lagi; jangan kan bercanda, mengucap sepatah kata pun aku tak mampu, karena hatiku masih tetap saja bergejolak saat aku melihatmu, hanya mampu melihatmu. Hanya itu.

Iya, hanya itu yang aku mampu, tak bisa lebih. Tak kuat barangkali, atau aku harus pura pura kuat di depan mu? Tak mungkin, itu semua mustahil, karena semuanya sudah terlanjur. Kamu; lain kali jika pergi, jangan seperti ini.

***

Karena aku lemah, dan kamu tahu itu. Selalu tahu. Kamu; kelemahanku. Apa? Apa yang harus aku lakukan? Berlari memelukmu hingga yang akan kudapati adalah tepisan tanganmu? Sesakit itu?

Mungkin, memang sesakit itu. Tapi entahlah, aku suka rasa sakit itu. Entah, kenapa. Bodoh? Iya memang aku bodoh. Mungkin aku terlalu tolol. Karena di saat kamu menginjak ku, dan aku terus bertahan; berdiri dihadapan mu. Seakan aku meminta belas kasihan kepadamu? Bukan. Aku hanya membuktikan betapa keras nya rasa ini untuk mu. Hanya untuk kamu.

Because this love's too strong. Hey! Cant you see? Harus dengan cara apalagi aku memberi bukti hanya agar kamu mengerti? Mengerti karena segalanya tentang mu itu ‘betapa’ juga ‘terlalu’. Harus ku jelaskan lagi sebelah mana? Karena nyatanya kamu tak pernah mau mengerti; aku, hingga perasaanku.

***

Buta cinta itu memang nyata. Yang jelas— sejelas-jelasnya- aku yang tersiksa, sedangkan kamu? Menikmati permainan ini dan yaa.. Gotcha!!!! Kamu hampir memenangkan nya. Aku tahu, kamu tak akan pernah bisa menyadari semuanya. Dan kejelasannya; satu yang pasti, hati ini tidak akan pernah bisa lepas dari kamu— hingga saat ini.

Haa. Iya, hati ini milikmu. Selalu begitu; yang entah sampai kapan terus begitu. Aku masih selalu rela menanti disini, melihat tawamu, melihat senyummu, melihat genggam tanganmu; bersamanya, yang selalu kau sebut kebahagiaan. Aku turut berbahagia, wahai kamu. Ah, terlalu naif, bahkan munafik, aku..... aku terluka. Tak kah kau sadari itu?

Mungkin kau sudah menghilangkan segalanya tentang aku dalam benak mu. Aku yang pernah ada di pikiran mu, aku yang pernah membuat mu tertawa, aku yang pernah membuat mu tersenyum indah, dan hampir membuatku jatuh di pangkuanmu. Hey! Sebegitu mudah nya kah kau melupakan aku? Padahal nyatanya; aku disini merana dan apakah kau tahu disini aku 'gila'? Cinta mu terlalu kuat bagiku.

Ralat, cinta ku terlalu kuat untukmu.

Ah, berbicara tentang kamu memang tak akan pernah ada habisnya. Aku suka, karena dengan begini, aku selalu mengingatmu; walau kamu tidak. Menyedihkan, ya? Ah, tak apa. Aku sudah terbiasa. Bahkan, hal menyakitkan yang mana darimu yang tak ku nikmati? Segalanya manis, wahai. Terlalu manis. Walau semakin manis, semakin sakit pula goresan-goresan disini. Iya, goresan yang telah kamu ukir.

***

Seperti yang ku katakan, aku senang bercerita tentangmu. Hingga tak terasa sudah semalam ini. Ralat; sepagi ini. Dan kamu tetap disini, dalam pikiran dan hatiku. Selalu.

Entah kamu bisa membaca sedikit tulisan ini atau bahkan kamu pura pura tak bisa membaca? Menutup mata? Tak apa, yang penting ini untuk mu. Iya, untuk kamu; dariku yang selalu membanggakan mu.

Selamat pagi,

Hawa und Medan.

Senin, 07 Juli 2014

Maaf, Semoga Kau tahu Jalan Pulang

08.49 Posted by Unknown No comments

Karena cinta selalu tahu, kapan dan kemana ia harus pulang.

***

Nyatanya tak perlu menjadi seorang yang paling pintar untuk menyadari bahwa kau dan aku tak lagi sejalan. Nyatanya, memang tak perlu menjadi sempurna hanya untuk merelakan bahwa kamu telah pergi; merantau, ke lain hati.
Kepada semesta, hati ini berdusta. Berbicara sekenanya, semaunya. Karena lagi-lagi, nyatanya engkau selalu memenangkan setiap perdebatan dalam jiwaku; namamu. Harusnya, ku ucap jujur saja, bahwa hatiku -masih selalu- mengingat namamu. Namun lagi, egoku selalu menang untuk menyembunyikannya.

Entah, bagaimana bisa, kita, begini? Sudahkah? Sudahkah segalanya? Lalu bagaimana nanti, jika aku sendiri disini? Lalu bagaimana nanti, jika kini kamu sendiri yang pergi? Mengapa? Mengapa segalanya terasa begitu cepat?

Bukan masalah merelakan, karena nyatanya aku tak rela, melihat engkau yang kini menggenggam tangannya. Bukan lagi tanganku, bukan lagi cintaku, bukan lagi... aku. Lalu, aku bisa apa?

Apa semesta mendengar do‘aku? Apa semesta mendengar pintaku? Apa.... Apa semesta mendengar setiap kali ku memanggil namamu, duhai? Apa semesta menyampaikan itu padamu? Apa semesta memberitahumu tiap kali aku merindu? Atau.... Atau semesta menyembunyikan segalanya dan engkau tak pernah bahkan tak akan pernah tahu?

Sedetik lalu, lagi-lagi aku mengingatmu. Ya, lagi-lagi kamu. Dan selalu kamu, apa kamu tahu? Sehari lalu, aku merindumu. Selalu begitu. Seminggu yang lalu, bahagia itu berlalu, dan aku tak mampu. Harusnya aku mengerti, mengerti bahwa hari ini akan tiba, dan engkau memilihnya. Bukan, bukan aku, tapi dia. Apa aku tak cukup mampu membuat mu bahagia? Apa hanya dia? Apa hanya dia yang mampu? Hingga aku berlalu begitu saja, seperti angin.

Semesta mendengarku, mendengar sakitku, mendengar perihku. Hujan.

Hai kamu, mungkin sudah selayaknya, dan sudah seharusnya aku belajar; merelakan. Karena nyatanya engkau begitu, dan terlalu mencintanya. Seperti aku, begitu dan terlalu; mencintaimu. Pergilah, dengan segenggam harapan yang kau sebut kebahagiaan. Dan aku disini diam, dengan segenggam yang ku sebut kepahitan.

Boleh aku sedikit mengingatkan? Kau boleh pergi, dan nyatanya kau telah pergi. Dan cinta, kau akan selalu tahu jalan pulang. Bukan begitu? Semoga.

Maaf, maaf jika aku masih selalu mengharapkan. Maaf jika aku masih selalu menantikan. Maaf jika aku masih saja mencinta. Karena pemenang selalu satu, bukan? Dan itu, kamu, wahai.

Rabu, 02 Juli 2014

06.11 Posted by Unknown No comments

Jadi sebenernya ngga ngerti sama diri sendiri. Rasanya, memang sudah biasa saja, bahkan sudah terlalu hambar untuk mengatakan aku masih mencinta. Memang mungkin, masih ada secuil jiwa yang selalu merindukanmu; terkadang.

Sejujurnya mungkin hanya aku yang merindumu —masih. Mungkin memang hanya aku, yang ditempatkan pada sejatinya; hati yang selalu mencinta. Namun tenanglah, tak perlu engkau risau. Karena nyatanya, kamu sudah tak lagi perduli, bukan?

Ngga kok, aku ngga nyalahin kamu, karena mungkin sebelumnya aku harus berkaca pada diriku sendiri. Ya, namanya juga manusia biasa. Aku cuma mampu mencinta alakadarnya; yang amat jauh dari kata sempurna.

Jika saja kamu tahu, ada segores luka yang kamu tinggalkan. Tak apa, kau pun sudah tau, bukan? Bahwa sejak awal, jika aku memang sudah menyayangi, ya berjalan lah seperti itu, hingga aku menemukan titik ketidaksanggupanku lagi. Tapi nyatanya begini, Tuhan bahkan tak mengizinkan kamu untuk selalu disini. Ya it's okay. Kamu hanya seorang yang datang sebagai pelajaran, bukan? So, thankyou. For everything, dude.

By the way, kangen duduk sebelah lo!