Gadis kecil itu terduduk di sebuah kursi di ujung danau. Ia melihat sepasang angsa putih yang sedang berenang bersama, berdua. Tak disangka, ujung bibirnya menaik ke atas. Seulas senyum terlukis indah di bibirnya. Ah....... Andai saja dia bisa melakukan hal yang sama seperti angsa itu..... Berdua, bersama orang yang dicintainya.
Orang itu, lagi-lagi orang itu yang ada di fikirannya. Orang yang selama ini telah membuat dia dengan susah payah membangun dan membenarkan letak hatinya yang -mungkin- mulai retak. Ia sudah lama menahan kesakitannya. Namun, entah mengapa dia tak pernah mau menggantikan sosok lelaki itu dihatinya. Jangan kan menggantikan sosoknya, berhenti memfikirkannya saja dia tidak bisa, apalagi menggantikannya, bukan begitu?
Tiba-tiba air matanya mulai menetes. Dulu, lelaki itu yang membawanya ke tempat ini. Tepat satu tahun yang lalu. Tapi kini, ia datang sendirian. Tanpa laki-laki itu. Ah.... Lagi-lagi kenangan itu terputar cepat diotaknya. Lagi-lagi sosok lelaki itu memenuhi fikirannya. Ia tak pernah berfikir kebahagiaan itu berlalu sangat cepat. Tidak! Ia tak boleh seperti ini! Bukankah ia wanita yang tegar? Lalu, mengapa masih menangisi orang yang jelas-jelas sudah bahagia bersama wanita lain? Bukankah ia harus berbahagia melihat orang yang dicintainya bahagia bersama wanita pilihannya? Ia tak boleh egois!
Ia masih melihat angsa itu berenang-renang melintasi danau. Mereka bahagia sekali. Sangat sangat bahagia. Gadis itu kemudian berfikir, "Mengapa Tuhan tak mengizinkan aku berbahagia dengan mu?" "Mengapa Tuhan membuatku harus bertahan dalam luka?" "Mengapa.... Mengapa perasaan ku tak bisa aku hentikan untuk kamu?"
Tetesan air mengguncang ketenangan danau itu. Ah... Hujan. Fikirnya. Ia masih duduk di sana. Di kursi itu. Entah apa yang ia tunggu. Mungkin ia masih asyik melihat bayangannya bersama laki-laki itu, walaupun akhirnya ia pasti akan terluka. Namun entahlah ia selalu senang melakukannya. Ia mau terluka, walau hanya untuk melihat bayangan laki-laki itu. Pengorbanan? Pengorbanan macam apa itu?!!
Hujan pun mulai turun dengan derasnya. Namun gadis itu tetap tak mau beranjak dari tempat duduknya. Ia mungkin sudah tak perduli dengan kondisi fisiknya. Toh bentuk hatinya pun sudah tak tahu seperti apa. Kotak, persegi, bulat, trapesium, segi enam atau bahkan tak berbentuk? Mungkin.
1 jam... 2 jam... 4 jam...
Waktu berlalu sangat cepat dan gadis itu masih tetap duduk disana. Wajahnya pucat pasi, seperti mayat yang sudah siap dikafani. Matanya merah. Sepertinya ia menangis habis-habisan. Meluapkan seluruh emosinya terhadap lelaki itu. Meluapkan seluruh isi hatinya yang kini mulai lelah menghadapi kenyataan. 'Dia tak memilihmu. Dia tak memilih, kamu.'
"Kamu tau gak kenapa heart, hurt dan hard itu kalo dibaca kedengerannya sama?"
"Nggak. Emangnya kenapa?"
"Kamu tau hati? Dia akan merasakan sesuatu yang membahagiakan. Lalu, kamu tahu kan lawan dari bahagia itu, sedih? Kesedihan itu akan timbul ketika hati kamu mulai terluka."
"Lalu, setelah hati aku terluka bagaimana?"
"Kamu tahu kan kalau kamu terluka karena masalah perasaan itu sebabnya apa?"
"Ya, terlalu mencintai dan menyayangi, bukan?"
"Iya. Jadi, setelah kamu terluka, kamu harus berusaha keras untuk memulihkan perasaan kamu. Kamu harus berusaha keras untuk memilih antara melupakan, atau justru mempertahankan. Itulah mengapa heart, hurt dan hard nyaris terdengar sama. Mereka, saling bekaitan."
"Aku harap kamu nggak akan pernah membuat aku merasakan luka dan membuat aku harus memilih seperti itu, ya. Aku sayang kamu."
"Iya, nggak akan. Ngga akan pernah."
Hujan mulai mereda. Namun tangisannya tak kunjung mereda. Ia pun mulai berdiri dan menghapus air matanya. Mencoba melupakan laki-laki itu, dan beranjak pergi membiarkan sisa masa lalunya tetap bermain di sana. Di danau itu.
0 komentar:
Posting Komentar