Bahkan, jika aku tak mampu berucap, apa hatimu mampu membaca gelagatku?

Senin, 22 September 2014

07.03 Posted by Unknown No comments

Jika yang kamu inginkan adalah kepergianku, maka aku akan pergi.

Sejatinya, cinta itu saling membahagiakan, begitu yang kubaca di setiap buku roman. Hah. Klasik. Nyatanya, kini cintaku hanya untuk membahagiakan sepihak. Ya, membahagiakan kamu.

Apa artinya jika berjuang sendirian?
Apa artinya jika berjalan sendirian?
Apa artinya jika..... mencintai sebelah pihak?

Aku mencintaimu, sayangnya, kamu tidak.

Apa kabar malam lalu, saat kau datang membawa harapan?
Dan...... Apa kabar malam ini, ketika kau hilang tanpa setapak jejak yang kau tinggalkan?

Semudah itu untuk pergi?

Apa kabar janji-janji yang dahulu kau ucapkan?

Ah, aku terlalu berharap.

***

Nyatanya, kamu tetap pergi dan tak lagi perduli,
pertanyaanku, apa salahku?

***

Sebab menjadi tidak peduli itu sulit, terlebih sakit. Jika kamu mampu tidak peduli padaku, tolong ajarkan aku untuk tidak juga peduli padamu.

Selamat malam, semoga hidupmu selalu bahagia.

Dan Aku Melupakanmu

00.36 Posted by Unknown No comments

   Karena yakin lah, cepat atau lambat aku tahu, akhir dari segalanya ini memang akan dan pasti ada. Rasa sayang ini memang tidak akan hilang dan akan selalu ada, akupun masih bisa merasakan nya. Tapi ini hanya berlaku untuk rasa sayang ku kepada mu, sayang. Kamu padaku? Aku rasa..... tidak.

   Karena kamu kini berbeda, pergi, dan tak ku kenal lagi. Aku tahu, ini semuanya aneh, bahkan saat kamu pergi aku masih disini, masih merasakan hal yang sama. Hal yang dulu bahkan hingga saat ini aku rasa, untuk kamu. Namun, kamu terus melangkah. Tak menoleh sedikitpun pada aku. Aku yang selalu hendak menggapaimu. Aku yang selalu berdiri dibelakangmu. Aku yang......

   Aku yang berjuang setiap harinya, karena rasa ini yang selalu menguatkan ku. Kadang atau bahkan seringkali kamu tak pernah menoleh atau mungkin menghargai perasaan ini, namun aku tak peduli dengan semuanya. Tapi kini... Aku tau aku salah, terlalu lama menahan rasa sakit hanya membuat ku semakin terlalu sayang kepadamu. Tapi sekarang? Masih ku coba untuk semuanya, karena... butuh proses...

   Jika kamu inginkan aku pergi, maka aku akan pergi. Jika kamu inginkan aku menjauh, maka aku akan jauh. Jika kamu inginkan aku meninggalkanmu, maka aku akan tinggalkan. Namun, tidak untuk sekarang. Tidak untuk saat ini yang nyatanya aku masih tak mampu. Tunggulah, tunggulah sekejap lagi. Bersabarlah. Bersabarlah sebentar lagi. Aku akan berlari, tak perduli lagi. Namun bukan sekarang, hingga saatnya nanti.

   Ya, bukan sekarang. Sekarang aku masih lelah, masih sakit, walau aku masih berusaha untuk bertahan, mempertahankan kamu. Tapi, apa aku masih bisa? Sulit..
Sekali masih aku bisa maafkan, dua, tiga, bahkan empat kali pun, pintu maaf ku selalu terbuka. Walau aku melihat semuanya dengan mata kepala aku sendiri, walau aku merasa sakit yang begitu, disini. Nyatanya, terlalu sulit jika kepercayaan sudah dirusak.

   Aku masih bertahan walau aku disakiti. Aku masih mampu mencinta walau dikhianati. Aku masih selalu menunggu walau kamu datang dan pergi. Apa tak ada rasa bersalah? Ketika yang ku tahu kamu bersamaku namun hatimu bukan untukku? Lalu? Mengapa? Mengapa kamu mau jika nyatanya tak ada cinta dalam hatimu?

   Aku rasa aku salah orang. Aku kira kamu berbeda. Aku tunggu kamu dan semuanya hilang.
Aku rasa aku memang salah orang, semuanya memang hanya omong kosong belaka, semua ucapan mu hanya tinggal ngiangan, janji mu itu.... ah sudahlah. Mana janji mu yang akan berusaha menjadikan aku orang pertama yang tahu kamu sudah menjadi seperti yang dulu lagi? Mana? Allah tau mana yang terbaik:)

   Dan kamu pergi, tak kembali. Lalu, mungkinkah nyatanya kamu bukan yang terbaik untukku? Tak apa. Aku tak apa-apa. Aku hanya menyayangkan, mengapa engkau mau jika nyatanya kau tak mau? Memberi harapan palsu? Ah, terimakasih, sayang. Aku cukup muak untuk sebuah harapan.

   Dan aku sudah tak mau lagi dengan semua harapan itu. Aku adalah lelaki yang pertama sakit karena harapanmu itu, maka layak jika aku harus kalah dengan semua keadaan ini; aku tak mampu.
   Terima kasih atas 2 tahun yang sangat berkesan. Tapi maaf jika aku harus menghapus kamu di pikiran ku, dan aku harus menghilangkan semua tentang kamu, atau akupun tak akan lagi mengenal mu. Aku sudah terlalu sakit, walau Tuhan tau itu bukan cara yang baik, tapi biarlah, ini cara ku untuk bisa menghapus semua tentang mu.

   Untuk kamu, dengarkan aku, sekali ini saja. Aku mencintaimu, dengan segala kekuranganku. Aku menyayangimu, dengan segala kemampuanku. Mungkin, kini semuanya telah berubah. Telah berganti. Rasa ini telah mati. Tapi, jika kamu masih membutuhkan aku, datanglah. Karena aku tak akan mendatangimu, lagi.

Sincerelly, yours.

Hawa und Medan.

Minggu, 17 Agustus 2014

08.20 Posted by Unknown No comments

Sedikit-sedikit lupa, sedikit-sedikit inget. Ya-elah.

Jumat, 08 Agustus 2014

Biarkan ini Indah meski tak Bernama

22.50 Posted by Unknown No comments

Cinta sejati itu memberi tanpa harus meminta; dari kamu, orang yang ku sayang.

***

Dulu, aku percaya dan yakin, jika cinta itu harus memiliki. Namun kini, percaya ku berganti. Nyatanya, aku mencintai, dan saat aku belajar mencintai, harusnya aku sadar, aku harus pula belajar untuk melepaskan. And then, I can‘t handle it. Kamu pergi, dan aku tak pernah siap. Lalu memaksa siap? Ah pintar sekali kamu, kamu benar, selalu benar.

Dan kini, kepercayaan ku hanya tinggal sebuah nama, dan seiring berjalan nya waktu semuanya berubah, bukan? Dan akhirnya kamu pergi; lalu ku sadar cinta tak harus memiliki itu memang ada, kali ini aku percaya dan sekarang aku merasakan nya.

Wahai, aku sedang berjalan untuk melupakanmu. Maksudku, menyimpan kenangan itu. Maka, bolehkah aku memohon? Bolehkah aku memohon untuk kamu, berhentilah menghantui aku, berhentilah membayangi hidupku. Ataukah? Ini hanya karena aku yang terlalu?

Kenangan yang memang susah untuk ku lepas atau bahkan akan tetap hinggap disini. Huh, sepertinya ini aku, yang terlalu kepadamu, terlalu mencintai mu. Apa aku salah terlalu tulus? Cinta memang rumit, di saat sudah berekspetasi tinggi dan berangan-angan indah.... Ahh sudahlah, semuanya sudah hilang apalagi yang harus aku sesali?
Kamu pernah bilang, kan, "biarkan ini indah meski tak bernama." Tapi.. Aku bisa sebut ini indah jika memang rasa ini tetap saling menyatu. Tapi jika kamu membagi rasa ini, bagaimana bisa kau sebut indah? But you taught me to be a good person, as always.

Dan kamu, terbaik, pada masamu. Ku harap aku pun begitu, yang terbaik, pada masaku. Aku harap, kamu tetap menyimpan aku dalam pikirmu, dalam berkas kenangan, walau kau pendam, aku takkan busuk didalamnya. Hanya untuk mengingatkan, bahwa aku pernah bersamamu dalam waktu yang terbaik yang Tuhan berikan.

Kita akan bersama, akan terus bersama dalam waktu yang tak akan pernah kita tentukan.

Boleh aku minta satu syarat? Biarkan rasa sayang ini melebur menjadi satu dalam jiwa, agar tak pernah hilang dan tak pernah pergi,selamanya.
Terima kasih.

Selamat malam,
Hawa und Medan.

Kamis, 07 Agustus 2014

23.31 Posted by Unknown No comments

”I can‘t explain what I feel right now. You are always in my heart. I don‘t know why, but my heart did. I think you should know, but then, I know, you don‘t care, about everything, about my heart, about me —especially. I love you, with all my heart.“

—Me.

00.35 Posted by Unknown No comments

”Kalo aku tau sekarang kita bakal jadi saling melupakan gini, dulu aku gaakan terima kamu. Biarin gaada status yang penting kita selalu kemana-mana bareng, toh kita tau hati kita itu buat siapa. Ga kayak sekarang, hati aku masih buat kamu, eh hati kamu nya udah pergi jauh entah kemana. Hehe.“

Kamis, 31 Juli 2014

Terimakasih, untuk Kamu.

15.01 Posted by Unknown No comments

Karena sabar itu tak ada batasnya..

Maka, jika sabar tak ada batas, akankah kebahagaiaan itu dapat terlaksana?
Jika kita terus bersabar, apakah.... Apakah hanya aku yang bisa bersabar sedangkan dia tidak?
Apakah memperjuangkan orang yang tidak seharusnya di perjuangkan itu indah?
Jika semua dilakukan, bagaimana jika aku lelah dan sudah mencapai titik jenuhku? Apa aku boleh berhenti? Padahal, rasanya ingin maju, selalu menuju kamu. Namun —lagi rasa lelah dan jenuh terus menderu-deru...

Dan kali ini, entah yang sudah keberapa kali, aku sudah tak mampu lagi menghitungnya; dia. Lagi-lagi dia? Iya. Hanya dia yang terus memenuhi ruang hatiku. Jika kamu bawakan aku ratusan bahkan ribuan yang lain, aku dengan tegas menolak. Karena aku hanya ingin dia. Entah untuk kesekian —lagi, rasa jenuh ini hadir kembali, kesabaran ku diuji lagi, haruskah aku berhenti? Walau kamu bahagia yang ku nanti?

Jelas, sangat jelas aku coba tolak rasa jenuh ini. Tapi..... Tapi hal-hal yang menjurus dengan kamu terus saja berputar di kepala, tanpa aku sadari semua pikiran ini sudah terkontaminasi dengan sebuah zat yang bernama ”kamu“.

Hai, tak pernah sadarkah kamu?

Kamu mungkin tak akan pernah tahu; aku disini menunggu, dengan segala kasih sayangku, dan aku disini..... Apa perlu aku buktikan besarnya rasa sayang ini?

Lagi-lagi kamu dan terus saja kamu, tak pernah habis pikir secepat ini aku bisa nyaman dan secepat itu pula kamu katakan ”rasa nyaman itu udah gaada lagi“.

Dan sayangnya, aku bukan kamu, sayang. Aku bukan orang yang bisa dengan mudahnya meninggalkan kamu setelah aku rasa, kamu yang tepat, untukku, walau mungkin tidak untukmu. Seperti sebuah syair yang mengatakan, 'I‘m not the only one for you, but you‘re the only one for me' and it's true, dearest.

Dan sepenggal syair itu mungkin telah mewakili perasaanku selama ini. Disaat semuanya telah terjadi, yasudah, terjadilah, apa aku harus meratapi? Tentu saja tidak.
Sayang, ini aku, yang tak pernah peduli ucapan orang lain; tak pernah peduli kata-kata orang lain. Aku disini, sayang, di hadapanmu. Sesakit apapun yang pernah kamu lakukan terhadap ku; aku maafkan; karena cinta selalu memaafkan dan karena kamulah aku pun bisa belajar ikhlas.

Kamu tahu? Orang lain selalu bilang, aku adalah manusia terbodoh. Ah, aku memang bodoh, ya? Terlalu mencintai kamu, juga terlalu memaafkan kamu. Mau bagaimana lagi? Nyatanya sudah begini. Aku mencintaimu dengan selalu, walau kamu tidak. Ah, bukan aku ingin meratapi, bukan pula ingin mengharap kamu kembali, karena nyatanya rasa kamu telah mati, bukan? Jadi, intinya aku hanya ingin kamu tahu, aku mencintaimu seperti tak ada akhir, dan biarlah ini mengalir, untuk aku nikmati, sendiri.

Dan, jika aku meminta harapan itu terbuka sedikit lagi, apakah bisa? Aku akan berusaha memperjuangkan cintaku ini, akan berusaha dengan sekuat tenagaku, walau itu —mugkin sedikit mustahil, tapi apa salahnya? Apa salahnya aku mencoba sampai di puncak titik jenuh ku? Di dunia ini tak ada yg mustahil, bukan?
Ah, menurutku ada satu yg mustahil di dunia ini, apa? Rasa nyaman kamu terhadapku kembali. Aku rasa itu mustahil he he. Biarkan aku mencintai mu dengan caraku, dan biarkan aku jadi diriku sendiri, karena cinta selalu menerima apa adanya tanpa ada paksaaan.

Terimakasih untuk selalu menerimaku apa adanya, walau kini tidak.
Terimakasih telah menemani hari ku, walau kini tidak.
Terimakasih telah memperjuangkan aku, walau kini tidak.
Terimakasih untuk selalu ada, walau kini tidak.
Terimakasih untuk selalu memahami ku, walau kini tidak.
Terimakasih untuk mencintaiku, walau kini tidak.
Ah, terimakasih sudah menemani, walau kini tidak.
Terimakasih telah datang, walau kini pergi.
Terimakasih telah mendekat, walau kini menjauh.
Terimakasih pernah peduli, walau kini acuh tak acuh.
Terimakasih telah memberi harapan, walau kini pergi meninggalkan.
Terimakasih.

***

Lagi-lagi, ini untuk kamu, wahai.

Selamat Malam,
—Hawa und Medan